Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di pasar global diproyeksikan melonjak hingga mencapai kisaran US$1.650 hingga US$1.720 per ton pada 2027. Kenaikan harga ini dipicu oleh ketimpangan antara pasokan dan permintaan (excess demand) yang semakin melebar di pasar internasional.
Faktor utama pendorong lonjakan tersebut berasal dari tren penurunan volume produksi global yang beriringan dengan naiknya konsumsi domestik di negara-negara produsen utama, khususnya Indonesia.
Tekanan Cuaca dan Penurunan Produksi Global
Penurunan produksi CPO dunia telah membayangi industri sejak beberapa tahun terakhir. Pada 2025, total produksi CPO dunia tercatat sebesar 85,4 juta ton, kemudian diperkirakan turun menjadi 85,2 juta ton pada 2026, dan kembali menyusut hingga menyentuh angka sekitar 83,6 juta ton pada 2027.
Koreksi pasokan tersebut sebagian besar dipengaruhi oleh fenomena iklim El Nino yang melanda sentra perkebunan di Indonesia dan Malaysia sejak kuartal III-2026. Dampak kekeringan ini diproyeksikan berlanjut hingga kuartal I-2027, bahkan berpotensi merembet sampai kuartal II-2027.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Di tingkat produsen utama, produksi CPO Indonesia tercatat sebesar 51,6 juta ton pada 2025, lalu diproyeksikan turun menjadi 49,2 juta ton pada 2026 dan menyusut kembali menjadi 47,6 juta ton pada 2027. Kondisi serupa terjadi di Malaysia, di mana produksi kelapa sawit diperkirakan turun dari sekitar 20,2 juta ton menjadi 19,5 juta ton pada 2026.
Lonjakan Kebutuhan Domestik dan Program B50
Di sisi konsumsi, kebijakan mandatori energi di dalam negeri menambah ketatnya ketersediaan CPO untuk pasar ekspor. Program biodiesel B50 yang mulai berjalan sejak 1 Juli 2026 menyerap pasokan CPO sekitar 14 juta ton. Apabila implementasi B50 diberlakukan secara penuh pada 2027, kebutuhan minyak sawit untuk bahan bakar nabati tersebut diperkirakan melonjak hingga 18 juta ton.
Selain sektor energi, alokasi kebutuhan CPO nasional pada 2026 juga mencakup sektor pangan sebesar 10,2 juta ton serta oleokimia sekitar 2,2 juta ton. Secara keseluruhan, total konsumsi CPO domestik Indonesia pada 2026 diestimasikan menembus 26 hingga 27 juta ton, meningkat dari realisasi 2025 yang berada di kisaran 24,6 juta ton.
Kru KM Virgo Telepon Ibu Sebelum Kapal Terbalik di Laut Jawa

Kondisi Neraca dan Pasokan Terkini
Meski proyeksi jangka menengah menunjukkan pengetatan yang tajam, data kinerja semester I-2026 menunjukkan aktivitas produksi dan serapan masih berjalan dinamis. Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), produksi CPO dan PKO Indonesia periode Januari鈥揓uni 2026 mencapai 30,284 juta ton, naik 15,82% dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar 27,889 juta ton.
Pada paruh pertama 2026, konsumsi dalam negeri tercatat sebesar 12,994 juta ton (naik 5,48% secara tahunan) dan ekspor mencapai 16,595 juta ton (naik 5,79% secara tahunan). Dengan stok awal tahun sebesar 2,068 juta ton serta impor 32 ribu ton, stok akhir Juni 2026 tercatat berada di posisi 2,844 juta ton.
Gapki memperkirakan stok akhir tahun 2026 masih akan berada di rentang 2,5 hingga 2,9 juta ton. Namun, kombinasi dampak kekeringan berkepanjangan serta ekspansi serapan B50 secara penuh diprediksi menjadi faktor penentu yang mendorong lonjakan harga CPO global hingga menyentuh US$1.720 per ton pada 2027 mendatang.






