Di kawasan koridor utama Thamrin–Sudirman yang mencatatkan nilai tanah termahal di Indonesia hingga menembus Rp300 juta per meter persegi, pola pikir pengembang properti DKI Jakarta mengalami pergeseran tajam. Pengembang yang dahulu menolak integrasi fisik kini secara sukarela menyesuaikan batas lahan properti demi terhubung langsung dengan jalur MRT Jakarta.
Perubahan perilaku korporasi properti ini berakar dari terbuktinya dampak ekonomi konektivitas transportasi publik terhadap arus pengunjung. Jika sebelumnya pintu masuk stasiun dianggap mengganggu estetika dan keamanan gedung, kini pengembang justru berlomba mengintegrasikan fasilitas mereka dengan akses pejalan kaki.
Penolakan Keras pada Periode Awal MRT
Direktur Utama PT Integrasi Transit Jakarta, Ferdiansyah Roestam, membeberkan bahwa kondisi saat ini bertolak belakang dengan situasi pada 2017 hingga 2018 menjelang operasional perdana MRT pada 2019. Kala itu, MRT Jakarta harus mengerahkan upaya sangat besar hanya untuk meyakinkan para pengembang mengenai nilai tambah konektivitas jalur transit.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Pada masa tersebut, beberapa pengelola dan pemilik gedung meragukan keberhasilan proyek MRT dan menolak kehadiran akses stasiun di depan properti mereka. Tim MRT Jakarta bahkan sempat diusir karena pengembang beranggapan tidak ada preseden proyek serupa yang terbukti menguntungkan properti komersial di ibu kota.
Rela Mundurkan Batas Properti di Kawasan Termahal
Kondisi tersebut kini berbalik total. Manfaat lonjakan mobilitas masyarakat di koridor transit mendorong pengembang kelas atas (top tier) untuk aktif berkontribusi terhadap penyediaan fasilitas layanan publik. Langkah ini diambil demi mempermudah akses langsung pengunjung menuju area komersial mereka.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Salah satu wujud nyata pergeseran ini terlihat di kawasan pusat Jakarta sekitar Bundaran Hotel Indonesia (HI). Ferdiansyah mengungkapkan bahwa salah satu pusat perbelanjaan yang berbatasan dengan proyek Extended Concourse Bundaran HI bersedia memundurkan area sempadan (setback area) bangunannya hingga 80 sentimeter. Pengorbanan ruang komersial tersebut ditujukan agar jalur pejalan kaki yang terhubung dengan stasiun menjadi jauh lebih lapang dan nyaman.
Country Head Knight Frank Indonesia, Willson Kalip, mengonfirmasi bahwa koridor utama Thamrin–Sudirman tetap menjadi titik pusat aktivitas ekonomi dengan nilai properti tertinggi di Indonesia, yakni mencapai Rp300 juta per meter persegi. Kesediaan pengembang menggeser batas lahan di kawasan berharga tinggi tersebut mempertegas bahwa akses mobilitas berbasis transit kini telah diposisikan sebagai aset strategis penopang nilai ekonomi bangunan.






