Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan tidak lagi terburu-buru maupun menetapkan target waktu bagi Iran untuk kembali ke meja perundingan. Sikap santai ini kontras dengan pernyataan awalnya saat perang AS-Iran pecah pada 28 Februari lalu, ketika ia memperkirakan eskalasi militer dapat diselesaikan hanya dalam waktu empat hingga enam minggu.
Dalam wawancara pada Rabu (26/8/2026), Trump menegaskan bahwa Washington berada pada posisi yang sangat menguntungkan akibat tekanan militer dan ekonomi yang diberlakukan terhadap Teheran. Ia mengklaim AS mencatatkan kemenangan besar dengan menyoroti lonjakan inflasi, keterpurukan ekonomi Iran, serta gelombang demonstrasi yang dihadapi pemerintah setempat.
Perubahan nada bicara Trump terjadi setelah jalur diplomasi sebelumnya menemui jalan buntu. Pada Juni, AS dan Iran sempat menyepakati nota kesepahaman berdurasi 60 hari yang membahas transit pelayaran melalui Selat Hormuz, peluang pencabutan sanksi, hingga perundingan program nuklir Teheran. Namun, kesepakatan sementara tersebut kedaluwarsa pada awal Agustus tanpa menghasilkan terobosan lanjutan.
Talenta Vokasi Dituntut Adaptif Hadapi Perubahan Dunia Kerja

Tekanan Ekonomi Maksimal dan Respons Teheran
Menyusul berakhirnya masa berlaku kesepakatan tersebut, Washington meluncurkan paket sanksi baru yang dijuluki para pejabat AS sebagai "Hari D Ekonomi" atau "Operasi Ekonomi Outcast". Langkah ini menargetkan Iran beserta 60 entitas di berbagai negara yang masih menjalin hubungan bisnis dengan Teheran.
Kementerian Luar Negeri Iran mengecam keras langkah tersebut. Otoritas Teheran menilai sanksi sepihak AS merupakan bentuk intimidasi sistematis sekaligus pelanggaran berat terhadap hukum internasional dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Di dalam negeri Iran, tekanan ekonomi memicu pelemahan nilai tukar yang tajam. Mata uang rial anjlok hingga melampaui level 2 juta rial per dolar AS di pasar bebas. Kondisi ini mendongkrak harga kebutuhan pokok secara drastis dibanding level sebelum perang, dengan harga tomat melonjak 71 persen, daging ayam naik 74 persen, dan minyak goreng meroket hingga 177 persen.
Intip ke dalam 'Kos-kosan Barang' di DKI, Sewa Rp320.000-Tembus 7 Juta

Keterbatasan Sanksi dan Perdagangan dengan China
Meski Trump menilai dampak ekonomi akan memaksa Teheran melunak, sejumlah pengamat meragukan efektivitas strategi tersebut dalam mengubah kebijakan keamanan Iran. Trita Parsi dari Quincy Institute menilai sanksi memang membebani kehidupan masyarakat Iran secara signifikan, tetapi tekanan ekonomi tidak serta-merta bertransformasi menjadi kompromi politik dari pemerintah Teheran.
Selain itu, efektivitas kampanye isolasi ekonomi AS menghadapi tantangan struktural di pasar komoditas global. Sekitar 90 persen ekspor minyak mentah Iran mengalir ke China, sementara pemerintah AS hingga kini belum menargetkan sejumlah entitas besar asal China yang aktif dalam jaringan perdagangan minyak tersebut.






