Kawasan Matraman di Jakarta masa kini dikenal sebagai salah satu titik permukiman padat dan jalur penghubung penting di ibu kota. Pada era Hindia Belanda, wilayah tersebut merupakan perkebunan partikelir luas yang dikuasai oleh satu individu bernama J.M.L. Bohl selama lebih dari empat dekade.
Bohl, seorang warga negara Belanda kelahiran 1848, tiba di Batavia pada sekitar 1864 saat masih berusia 16 tahun. Memulai kariernya dari level bawah di perusahaan perdagangan Pitcairn Syaae & Co., ia kemudian beralih mengumpulkan modal untuk berinvestasi pada kepemilikan tanah. Pada usia yang relatif muda, Bohl berhasil membeli dan menguasai dua bidang tanah besar, yakni Matraman dan Sinajan di dekat Paal Merah.
Kepemilikan 400 Hektare dan Pemanfaatan Lahan
Catatan direktori kolonial Adresboek van Nederlandsch-Indi毛 voor den Handel tahun 1896 mencatat Bohl memiliki area seluas 502 bau atau sekitar 400 hektare di Matraman. Berdasarkan dokumen Regeerings-almanak voor Nederlandsch-Indie, Bohl mempertahankan kendali penuh atas tanah partikelir tersebut selama 41 tahun.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Di bawah penguasaannya, lahan perkebunan tersebut difungsikan secara produktif untuk komoditas pertanian utama, terutama padi dan kelapa. Di atas tanah itu pula Bohl mendirikan kediaman pribadi yang dilengkapi puluhan ekor rusa peliharaan sebagai simbol status tuan tanah pada masanya.
Kehidupan Tertutup dan Akhir Era Partikelir Matraman
Meskipun memiliki aset lahan yang sangat luas, Bohl dikenal menjalani kehidupan yang sangat tertutup. Surat kabar Bataviaasch Nieuwsblad edisi 19 Juni 1920 memberitakan bahwa Bohl jarang berinteraksi dengan publik luas dan lebih memilih tinggal menyendiri.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Keterlibatannya dalam ruang publik tercatat sangat minim, salah satunya ketika harian De Locomotief pada 21 Agustus 1908 mengabarkan pencalonan dirinya sebagai anggota dewan perwakilan untuk wilayah Meester Cornelis, yang kini dikenal sebagai Jatinegara.
Riwayat kepemilikan privat atas kawasan Matraman berakhir saat Bohl wafat pada 18 Juni 1920 di usia 72 tahun. Ia mengembuskan napas terakhir di sebuah rumah sakit di Jalan Salemba setelah menjalani operasi usus buntu yang mengalami komplikasi gagal ginjal akut. Pasca-kematiannya, kendali atas tanah partikelir Matraman yang telah ia kuasai selama 41 tahun resmi beralih ke tangan pemerintah kolonial.






