Stabilitas keamanan dunia merupakan fondasi penting bagi aktivitas internasional, termasuk dalam menjaga ekosistem ekonomi global. Dalam perkembangan terbaru, Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) atau Pentagon tengah menyusun strategi nuklir baru. Langkah ini dirancang secara khusus untuk memberikan pilihan yang lebih luas bagi Presiden AS jika terjadi potensi perang dengan Rusia atau China. Proses penyusunan strategi pertahanan yang krusial ini diawasi secara langsung oleh kepala kebijakan Pentagon, Elbridge Colby.
Strategi nuklir baru ini membawa pergeseran fokus yang cukup signifikan. Kebijakan tersebut dilaporkan akan lebih menekankan pada penggunaan senjata nuklir taktis jarak pendek dalam konflik regional, alih-alih hanya bergantung pada senjata strategis jarak jauh. Selain itu, tinjauan rahasia ini ditujukan secara spesifik untuk mengatasi skenario apabila sekutu-sekutu Amerika Serikat mendapat serangan dari Rusia atau China. Seorang pejabat pertahanan AS menyatakan bahwa dengan menyediakan pilihan nuklir yang lebih realistis dan kredibel kepada presiden, upaya pencegahan militer negara tersebut akan menjadi jauh lebih kuat.
Kemunculan tinjauan strategis baru dari Pentagon ini terjadi sekitar enam bulan pascakedaluwarsanya perjanjian pembatasan senjata nuklir bilateral terakhir antara AS dan Rusia, yaitu New START. Perjanjian New START sendiri ditandatangani pada tahun 2010 dan sempat diperpanjang pada tahun 2021. Kesepakatan tersebut membatasi AS dan Rusia untuk hanya memiliki maksimal 1.550 hulu ledak strategis dan 700 sistem pengiriman, serta mewajibkan adanya transparansi verifikasi di antara kedua belah pihak. Namun, tanpa adanya draf pengganti yang disepakati, perjanjian New START resmi berakhir pada bulan Februari.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Sebelum perjanjian tersebut benar-benar berakhir, sempat ada upaya untuk menjaga pembatasan senjata. Presiden Rusia Vladimir Putin mengajukan usulan agar kedua negara tetap mematuhi batasan New START selama satu tahun ke depan, sembari melakukan negosiasi untuk merumuskan kesepakatan pengganti. Pihak Rusia berjanji tidak akan menambah jumlah hulu ledak mereka asalkan AS juga berkomitmen pada pendekatan yang sama, dengan penegasan bahwa Moskow tidak berniat menjadi pihak yang memulai eskalasi. Namun, Presiden AS saat itu, Donald Trump, menolak usulan Putin tersebut karena menginginkan kesepakatan yang lebih luas yang turut melibatkan China.
Keinginan AS untuk melibatkan China dalam pembatasan senjata nuklir ini mendapat penolakan keras dari Beijing. Pemerintah China, yang diperkirakan memiliki sekitar 600 hulu ledak nuklir, menolak untuk bergabung dalam pembicaraan tersebut dengan alasan bahwa negara-negara dengan persenjataan nuklir terbesarlah yang memikul tanggung jawab utama dalam perlucutan senjata. Di sisi lain, Rusia juga mengajukan syarat bahwa setiap perluasan kesepakatan senjata nuklir di masa depan harus mengikutsertakan negara-negara anggota NATO lainnya, yaitu Prancis dan Inggris.
Kru KM Virgo Telepon Ibu Sebelum Kapal Terbalik di Laut Jawa

Sebagai langkah antisipasi terhadap dinamika keamanan ini, Rusia sendiri telah memperbarui doktrin nuklirnya pada tahun 2024. Doktrin terbaru Rusia menetapkan bahwa agresi militer oleh negara non-nuklir yang mendapat dukungan dari kekuatan nuklir akan langsung diperlakukan sebagai serangan gabungan. Senjata pemusnah massal milik Rusia kini dapat digunakan secara sah apabila agresi konvensional dinilai menimbulkan ancaman kritis terhadap kedaulatan Rusia maupun sekutu dekatnya, Belarus. Selain itu, Moskow secara konsisten melayangkan kritik keras terhadap penempatan senjata nuklir AS di Eropa yang dilakukan di bawah skema pembagian kekuatan tempur NATO.
Meskipun ketegangan terus meningkat, Rusia menyatakan bahwa mereka sama sekali tidak memiliki niat untuk menyerang negara anggota NATO mana pun. Kendati demikian, Moskow mengeluarkan ancaman bahwa mereka akan menargetkan persenjataan nuklirnya secara langsung ke negara-negara yang menampung fasilitas senjata mematikan tersebut apabila diarahkan ke Rusia. Pada akhirnya, penyusunan strategi nuklir baru oleh Pentagon dan pembaruan doktrin pertahanan oleh Rusia mencerminkan persaingan kekuatan global yang kian intensif dalam mempertahankan pengaruh militer masing-masing.






