Partai Solidaritas Indonesia (PSI) kini tengah bersiap menghadapi tantangan politik ke depan dengan menetapkan target besar untuk menembus Senayan pada tahun 2029 mendatang. Untuk mencapai target tersebut, partai ini mulai menerapkan berbagai strategi baru yang dinilai lebih inklusif dan merangkul. Salah satu langkah strategis yang diambil adalah dengan mengusung gagasan utama berupa politik jalan tengah. Menurut Ketua Harian Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PSI, Ahmad Ali, konsep politik jalan tengah ini sengaja dipilih dengan tujuan utama untuk mengakomodasi semua golongan masyarakat sekaligus menghapus sekat-sekat identitas yang selama ini membatasi hubungan antar kelompok.
Penerapan gagasan politik jalan tengah ini diharapkan mampu membawa arah baru bagi perjalanan politik PSI di Indonesia. Melalui pendekatan ini, partai berupaya untuk tidak memihak pada satu golongan tertentu saja, melainkan berdiri di tengah untuk merangkul semua kelompok masyarakat tanpa terkecuali. Penghapusan sekat identitas menjadi poin penting dalam strategi ini, mengingat kemajemukan masyarakat Indonesia yang sangat beragam. Dengan menghilangkan batasan-batasan identitas kelompok tersebut, PSI ingin menciptakan ruang politik yang ramah bagi setiap warga negara, sehingga kolaborasi untuk pembangunan bangsa dapat berjalan dengan lebih harmonis dan terbuka.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Langkah perubahan haluan politik ini juga tidak terlepas dari sejarah perjalanan partai sejak awal didirikan. Ketika pertama kali berdiri pada tanggal 16 November 2014, PSI mengusung kampanye yang membawa isu penolakan terhadap poligami. Pada masa itu, langkah tersebut diambil dengan harapan dapat membangun basis konstituen perempuan yang kuat di berbagai daerah. Namun, seiring berjalannya waktu, kampanye tersebut justru memicu lahirnya persepsi publik yang kurang menguntungkan bagi partai. Salah satunya adalah munculnya anggapan atau persepsi di sebagian kalangan masyarakat yang menilai bahwa PSI merupakan partai yang anti-Islam. Persepsi inilah yang kini coba diubah oleh jajaran pengurus partai melalui pendekatan politik jalan tengah yang lebih terbuka.
Sebagai bagian dari upaya konkret untuk mendekatkan diri kepada masyarakat dan mengubah persepsi negatif tersebut, Ketua Harian DPP PSI Ahmad Ali memperkenalkan sebuah metode kerja yang disebut sebagai "belanja masalah". Kegiatan belanja masalah ini dilakukan dengan cara mendatangi langsung komunitas-komunitas masyarakat untuk mendengarkan persoalan yang mereka hadapi secara langsung. Melalui aktivitas turun ke lapangan ini, para kader dan pengurus partai dapat mengidentifikasi secara nyata persoalan-persoalan apa saja yang sedang terjadi di tingkat akar rumput. Lebih dari sekadar mendengar keluhan, hasil dari kegiatan belanja masalah ini nantinya akan digunakan oleh PSI sebagai bahan evaluasi internal untuk menemukan hal-hal apa saja yang perlu dibenahi di dalam tubuh partai agar kinerjanya semakin relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Kru KM Virgo Telepon Ibu Sebelum Kapal Terbalik di Laut Jawa

Selain melakukan kegiatan belanja masalah secara langsung, PSI juga tengah mempersiapkan sebuah program keagamaan dan kebangsaan yang akan dijalankan secara terstruktur. Partai ini berencana untuk menyelenggarakan kegiatan istigasah atau doa kebangsaan secara rutin. Berdasarkan agenda yang telah dipersiapkan, kegiatan doa bersama ini akan diselenggarakan pada pekan pertama setiap bulan. Program istigasah tersebut tidak hanya berpusat di tingkat nasional, melainkan akan dilaksanakan secara serentak di seluruh cabang PSI yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Melalui program doa kebangsaan ini, PSI berharap dapat mempererat tali silaturahmi dengan berbagai kelompok sekaligus membuktikan komitmen nyata mereka dalam menerapkan politik jalan tengah yang inklusif dan menghargai keberagaman.






