Ledakan permintaan kecerdasan buatan (AI) telah memicu lonjakan kinerja bisnis cloud yang luar biasa bagi raksasa teknologi dunia seperti Amazon, Microsoft, dan Alphabet. Alih-alih hanya menjual perangkat lunak biasa, perusahaan-perusahaan raksasa ini meraup keuntungan besar dengan menyewakan akses ke chip khusus dan infrastruktur komputasi yang sangat dibutuhkan untuk menjalankan model-model AI. Lonjakan kinerja ini membuktikan bahwa penyediaan infrastruktur fisik dan komputasi di balik layar saat ini menjadi mesin penghasil uang utama dalam ekosistem AI global. Para pelanggan korporasi kini saling berlomba untuk menyewa kapasitas komputasi demi memastikan model kecerdasan buatan mereka dapat beroperasi tanpa hambatan.
Amazon Web Services (AWS) menjadi salah satu contoh utama bagaimana bisnis infrastruktur ini menghasilkan profitabilitas yang sangat tinggi. Pada kuartal II 2026, AWS berhasil membukukan margin laba operasional sebesar 39%. Pertumbuhan pendapatan kuartalan divisi cloud milik Amazon ini menyentuh angka 37%, jauh melampaui prediksi para analis yang sebelumnya memperkirakan angka pertumbuhan di kisaran 31%. Bahkan, lembaga analis FactSet memproyeksikan total pendapatan AWS untuk tahun ini dapat berada di kisaran US$170 miliar. Keberhasilan ini membuat CEO Amazon, Andy Jassy, merasa optimistis bahwa pendapatan tahunan AWS di masa depan berpotensi menyentuh angka fantastis sebesar US$1 triliun.








