Masalah tingginya harga beras dan keterbatasan pangan di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), mendapat perhatian khusus dari pemerintah pusat. Perhatian ini bermula dari dialog di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, ketika seorang mahasiswa asal Alor bernama Adriano Padama menyampaikan keluh kesah mengenai kondisi daerahnya. Adriano melaporkan bahwa harga beras di Alor melonjak tinggi akibat rendahnya tingkat produksi lokal serta hambatan distribusi antarpulau. Merespons aspirasi tersebut, Badan Pangan Nasional (Bapanas) memulai intervensi awal, yang kemudian disusul dengan kunjungan kerja Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman ke Alor pada Sabtu, 8 Agustus 2026. Kunjungan tersebut menandai peluncuran strategi pertanian tiga tahap yang dirancang untuk mengatasi kemiskinan di wilayah tersebut.
Mengapa pasokan pangan di Kabupaten Alor sempat terganggu sebelum program ini berjalan?
Kondisi geografis Alor sebagai wilayah kepulauan memicu kendala distribusi logistik antarpulau. Masalah ini diperparah oleh rendahnya angka produksi pertanian di tingkat lokal, sehingga pasokan beras tidak mampu mengimbangi kebutuhan masyarakat. Akibat ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan ini, harga beras di pasar setempat melonjak naik. Untuk meredam lonjakan harga tersebut, pemerintah pusat melalui Perum Bulog dan berbagai lembaga terkait menyalurkan beras penyeimbang guna menjaga ketersediaan pangan di tingkat konsumen.
Bagaimana rincian penyaluran beras yang telah dilakukan untuk memenuhi kebutuhan mendesak di Alor?
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Tahap pertama dari strategi Kementerian Pertanian difokuskan pada pemenuhan kebutuhan pangan saat ini, terutama untuk menjamin ketersediaan dan keterjangkauan beras. Pemerintah mencatat bahwa sepanjang bulan Maret hingga Juli 2026, penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di Kabupaten Alor telah mencapai 764.070 kilogram. Penyaluran beras SPHP ini dilakukan melalui jaringan Rumah Pangan Kita (RPK), pengecer di pasar rakyat, serta melalui program Gerakan Pangan Murah (GPM). Selain itu, hingga tanggal 31 Juli 2026, pemerintah juga membagikan bantuan pangan beras sebesar 746.000 kilogram kepada masyarakat Alor. Dengan demikian, total beras yang digelontorkan untuk menjaga stabilitas pangan di Alor mencapai sekitar 1,5 juta kilogram.
Apa saja langkah konkret yang diambil pemerintah untuk meningkatkan produksi pangan lokal dalam jangka pendek?
Untuk tahap kedua, fokus dialihkan pada peningkatan produksi pangan lokal yang dapat memberikan hasil panen dalam waktu cepat, yakni sekitar tiga hingga empat bulan. Pemerintah menyiapkan bantuan benih padi, benih jagung, alat dan mesin pertanian (alsintan), serta pompa air. Pompa air ini difokuskan untuk lahan pertanian yang memiliki sumber air memadai. Dalam kunjungan kerjanya, Menteri Pertanian juga memutuskan untuk meningkatkan alokasi bantuan benih padi secara signifikan, dari yang semula hanya diusulkan untuk lahan seluas 1 hektare menjadi 3.000 hektare.
Bagaimana rencana jangka menengah untuk komoditas jagung di wilayah Alor?
Kru KM Virgo Telepon Ibu Sebelum Kapal Terbalik di Laut Jawa

Selain fokus pada tanaman padi, pemerintah juga menyiapkan program pengembangan komoditas jagung seluas 3.000 hektare. Program ini menjadi bagian dari inisiatif jangka menengah untuk memperkuat ketahanan pangan di Kabupaten Alor. Sama halnya dengan padi, tanaman jagung dipilih karena memiliki masa tanam yang relatif singkat dan dapat segera dipanen dalam hitungan bulan. Melalui langkah ini, ketergantungan pangan dari luar pulau diharapkan dapat berkurang secara bertahap seiring meningkatnya kapasitas produksi mandiri di daerah tersebut.
Bagaimana strategi jangka panjang pemerintah untuk membangun kesejahteraan ekonomi petani di Alor?
Tahap ketiga dari strategi ini diarahkan pada pengembangan komoditas perkebunan yang memiliki umur produktif panjang dan bernilai ekonomi tinggi. Berdasarkan analisis kondisi agroklimat di Kabupaten Alor, komoditas kelapa, mete, dan kakao dinilai sangat cocok untuk dikembangkan. Tanaman perkebunan ini diharapkan dapat menjadi sumber pendapatan jangka panjang yang berkelanjutan bagi masyarakat setempat hingga puluhan tahun ke depan. Meski demikian, hasil dari komoditas perkebunan ini memerlukan waktu tumbuh yang lebih lama dibanding tanaman pangan, sehingga pelaksanaannya harus berjalan beriringan dengan pemenuhan kebutuhan pangan harian pada tahap pertama dan kedua.






