Bank Indonesia menetapkan BI Rate di level 5,75 persen setelah mengalami kenaikan sebesar 100 bps sejak Mei 2026. Kenaikan suku bunga acuan ini memberikan tantangan baru bagi sektor jasa keuangan, khususnya industri pembiayaan di tanah air. Menanggapi kondisi tersebut, PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOMF) telah menyiapkan langkah taktis untuk menjaga kinerja bisnisnya agar tetap stabil. Anak usaha dari PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII) ini menerapkan strategi pengelolaan biaya dana secara dinamis guna memastikan kegiatan penyaluran pembiayaan kepada masyarakat tetap berjalan optimal dan efisien.
Bagaimana target penyaluran pembiayaan WOM Finance pada tahun 2026?
WOM Finance menetapkan target penyaluran pembiayaan yang cukup optimistis, yaitu sebesar Rp6,3 triliun untuk tahun 2026. Hingga pelaksanaan agenda public expose terbarunya, realisasi pembiayaan yang berhasil disalurkan oleh perseroan tercatat telah mencapai Rp2,6 triliun. Direktur WOM Finance, Cincin Lisa Hadi, menjelaskan bahwa manajemen menaruh harapan besar agar target tersebut dapat tercapai sepenuhnya hingga akhir tahun nanti. Optimisme ini didorong oleh kesiapan infrastruktur pembiayaan serta strategi penetrasi pasar yang terus diperkuat oleh perseroan di berbagai wilayah operasional.
Bagaimana WOM Finance menyiasati kenaikan BI Rate untuk menjaga biaya dana tetap efisien?
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Guna meminimalkan dampak kenaikan suku bunga acuan dari Bank Indonesia, WOMF mengandalkan strategi diversifikasi pendanaan sebagai pilar utama dalam menjaga biaya dana atau cost of fund. Langkah konkret yang dilakukan adalah membandingkan secara aktif sumber dana yang tersedia, baik melalui penerbitan instrumen obligasi maupun pinjaman dari sektor perbankan. Saat ini, komposisi pendanaan perusahaan leasing ini masih didominasi oleh instrumen obligasi dengan nilai tercatat sekitar Rp2,2 triliun. Sementara itu, porsi pendanaan yang bersumber dari pinjaman sektor perbankan berada di kisaran Rp1,5 triliun. Langkah penyeimbangan ini krusial agar beban bunga perusahaan tidak melonjak secara drastis.
Bagaimana kualitas pembiayaan dan kinerja piutang WOM Finance per Juni 2026?
Hingga periode Juni 2026, kinerja keuangan WOMF menunjukkan performa yang solid dengan raihan total kredit berjalan atau piutang pembiayaan neto sebesar Rp6,4 triliun. Angka tersebut mencerminkan pertumbuhan sebesar 5,2 persen secara tahunan (year-on-year) dibandingkan dengan capaian pada periode yang sama tahun lalu. Di tengah ekspansi piutang tersebut, kualitas aset perseroan juga terpantau tetap sehat dan terkendali. WOMF mencatatkan rasio kredit macet atau Non-Performing Financing (NPF) gross sebesar 2,53 persen, sedangkan rasio NPF net tercatat berada di level yang cukup rendah yaitu 1,13 persen.
Bagaimana perkembangan industri multifinance nasional secara umum di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan?
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Berdasarkan data resmi yang dirilis oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), industri perusahaan pembiayaan di Indonesia secara umum masih mencatatkan rapor pertumbuhan yang positif. Total piutang industri multifinance pada Juni 2026 tumbuh sebesar 1,88 persen secara tahunan hingga mencapai angka Rp511,26 triliun. Pertumbuhan piutang industri ini turut ditopang oleh peningkatan modal kerja yang mengalami kenaikan sebesar 6,36 persen secara tahunan pada periode Juni 2026. Kondisi makro industri yang tetap ekspansif ini memberikan landasan yang kuat bagi WOMF untuk terus menyalurkan pembiayaan secara selektif kepada konsumen.
Faktor apa saja yang memengaruhi keberhasilan WOM Finance dalam menjaga target pembiayaan?
Keberhasilan WOMF dalam mengejar target pembiayaan sebesar Rp6,3 triliun sangat dipengaruhi oleh kemampuan perusahaan dalam menjaga margin bunga bersih dan menekan risiko kredit macet. Dengan dukungan penuh dari induk usahanya, PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII), WOMF memiliki posisi tawar yang baik dalam mengakses likuiditas. Diversifikasi pendanaan antara obligasi senilai Rp2,2 triliun dan pinjaman bank sebesar Rp1,5 triliun menjadi instrumen fleksibilitas utama. Pengelolaan risiko yang tecermin dari NPF net 1,13 persen juga memastikan bahwa ekspansi bisnis yang dilakukan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian demi menjaga kepercayaan para pemegang saham dan investor.






