Peta jalan bisnis PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menunjukkan perkembangan signifikan pada pertengahan tahun 2026. Melalui wawancara dalam program Profit di CNBC Indonesia pada hari Senin, 3 Agustus 2026, Mercy Widjaja berdialog langsung dengan Chief Financial Officer (CFO) GOTO, Simon Ho. Dalam kesempatan tersebut, dipaparkan bahwa perusahaan berhasil mencatatkan laba bersih sebesar Rp 252 miliar pada kuartal II-2026. Pencapaian ini menjadi salah satu tonggak penting bagi GOTO dalam membuktikan efisiensi operasional dan efektivitas strategi monetisasi yang mereka jalankan di pasar Indonesia.
Keberhasilan mencetak laba bersih ini tidak lepas dari pertumbuhan pendapatan bersih perusahaan yang meningkat sebesar 31% secara tahunan (year-on-year) menjadi Rp 5,7 triliun pada kuartal II-2026. Selain itu, kinerja keuangan GOTO juga ditopang oleh pertumbuhan penyesuaian EBITDA Grup yang melonjak sebesar 137% secara tahunan hingga melampaui angka Rp 1 triliun. Dengan fondasi keuangan yang semakin kokoh, perusahaan kini memfokuskan strategi pada sektor-sektor yang memiliki potensi pertumbuhan lebih tinggi serta melakukan penyesuaian pada sektor yang mengalami perlambatan.
Berikut adalah rangkuman informasi penting mengenai kinerja keuangan, sumber pertumbuhan, serta kebijakan strategis terbaru dari GOTO yang perlu diketahui.
Bagaimana rincian pencapaian keuangan GOTO selama kuartal II-2026?
Pada kuartal II-2026, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) berhasil menorehkan laba bersih sebesar Rp 252 miliar. Kinerja positif ini didorong oleh kenaikan pendapatan bersih perusahaan yang mencapai Rp 5,7 triliun, atau tumbuh sebesar 31% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Faktor lain yang memperkuat kondisi keuangan perusahaan adalah pertumbuhan penyesuaian EBITDA Grup yang meningkat 137% secara tahunan hingga berhasil melewati angka Rp 1 triliun. Angka-angka ini mencerminkan efisiensi biaya yang terus diupayakan oleh manajemen di bawah kepemimpinan Simon Ho selaku CFO.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Lini bisnis apa yang menjadi motor penggerak utama pertumbuhan GOTO saat ini?
Sektor teknologi finansial (fintech) saat ini menjadi pendorong utama pertumbuhan kinerja GOTO. Pertumbuhan EBITDA di sektor fintech tercatat melonjak sangat pesat hingga mampu melampaui pertumbuhan yang dihasilkan oleh sektor layanan on-demand. Melihat tren positif ini, manajemen GOTO menaruh harapan besar agar bisnis Fintech dapat memberikan kontribusi yang jauh lebih besar lagi bagi kinerja keuangan grup secara keseluruhan di masa mendatang, menggeser ketergantungan pada lini bisnis konvensional lainnya.
Berapa jumlah pengguna aktif yang bertransaksi di platform GOTO?
Skala operasional GOTO didukung oleh basis pengguna yang sangat luas di Indonesia. Saat ini, jumlah pengguna platform GOTO yang aktif bertransaksi telah melampaui angka 70 juta pengguna transaksi per tahun. Basis pengguna yang besar ini menjadi aset krusial bagi GOTO untuk terus mendorong penetrasi berbagai produk keuangan dan layanan digital mereka ke masyarakat luas, serta menjaga keberlanjutan transaksi di dalam ekosistem aplikasi mereka.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Bagaimana kebijakan komisi terbaru GOTO untuk layanan transportasi roda dua?
GOTO menerapkan kebijakan baru terkait tarif komisi untuk layanan transportasi roda dua. Kebijakan ini berupa penerapan aturan komisi sebesar 8% bagi layanan transportasi roda dua, yang mulai diberlakukan secara efektif sejak bulan Juli 2027. Kebijakan ini diharapkan dapat membantu perusahaan dalam mengoptimalkan pendapatan dari sektor transportasi online, sekaligus menjadi instrumen untuk menjaga keseimbangan ekosistem kemitraan di lapangan.
Mengapa GOTO menurunkan proyeksi laba untuk sektor layanan on-demand?
Meskipun sektor fintech menunjukkan pertumbuhan yang sangat kuat, GOTO mengambil langkah penyesuaian pada lini bisnis lainnya. Perusahaan memutuskan untuk menurunkan proyeksi laba bisnis pada sektor layanan on-demand (On-demand Services) sebesar Rp 300 miliar. Penurunan proyeksi ini dilakukan seiring dengan fokus perusahaan yang kini lebih diarahkan untuk memaksimalkan kontribusi dari sektor bisnis Fintech yang dinilai memiliki potensi pertumbuhan lebih besar. Dengan demikian, alokasi sumber daya perusahaan dapat disesuaikan demi mencapai target laba bersih yang lebih konsisten ke depan.






