Gelombang protes anak muda di India kini meluas ke kelompok usia yang jauh lebih belia. Setelah barisan Generasi Z turun ke jalan menuntut akuntabilitas di bawah pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi, para siswa yang tergolong Generasi Alpha mulai menggelar aksi protes untuk menuntut perbaikan fasilitas fisik dan mutu pendidikan dasar.
Eskalasi ini memperlihatkan pergeseran isu yang signifikan di ruang publik India. Pada awal Juni, ribuan pemuda Gen Z memadati kawasan Jantar Mantar di New Delhi guna menyuarakan keresahan atas maraknya kasus kebocoran soal ujian serta tingginya angka pengangguran. Aksi tersebut diinisiasi oleh kelompok satir Cockroach Janata Party (CJP). Kelompok yang sama kemudian meluncurkan kampanye "School Thik Karo" (Perbaiki Sekolah) pada 15 Agustus, yang mendorong sorotan publik beralih langsung ke krisis di tingkat sekolah dasar.
Sejak akhir Juli, aksi mogok dan protes siswa tercatat meluas di sedikitnya sepuluh negara bagian, termasuk Maharashtra, Bihar, Rajasthan, Jharkhand, Madhya Pradesh, hingga Uttar Pradesh. Tuntutan yang disuarakan mencakup minimnya tenaga pendidik, rusaknya infrastruktur belajar, hingga buruknya mutu makanan harian yang disediakan pihak sekolah.
Berkurikulum IB, SMA Unggulan Polri Berencana Terima Murid WNA

Di Bihar, sekitar 50 siswa menempuh jalan kaki sejauh empat kilometer pada 28 Juli untuk menemui pejabat setempat demi memprotes kualitas makanan sekolah yang dinilai tidak layak. Aksi serupa berlangsung di Desa Samuhi Bhatpurwa, Uttar Pradesh, pada 22 Agustus, ketika 122 murid sekolah dasar negeri—beberapa di antaranya baru berusia enam tahun—menolak masuk kelas. Mereka menagih janji pembangunan gedung baru setelah sebagian bangunan sekolah hancur akibat tembok runtuh pada 2023 yang sempat mencederai seorang siswi. Protes di desa tersebut mereda setelah Pejabat Pendidikan Wilayah Deepak Awasthi datang langsung dan menjanjikan realisasi pembangunan fasilitas baru.
Aksi massa usia dini ini menyoroti kontras tajam antara laporan resmi pemerintah dan realitas lapangan. Hasil audit pemerintah untuk periode 2025–2026 mencatat adanya perbaikan akses, penurunan angka putus sekolah, serta rasio guru dan murid yang berada di angka rata-rata satu guru per 24 siswa. Namun, data resmi lainnya menunjukkan bahwa lebih dari 100.000 sekolah di India hanya ditangani oleh satu guru untuk seluruh tingkatan kelas, sementara ribuan sekolah lain tercatat tanpa siswa sama sekali.
Intip ke dalam 'Kos-kosan Barang' di DKI, Sewa Rp320.000-Tembus 7 Juta

Dengan cakupan sistem yang menaungi sekitar 247 juta siswa di 1,5 juta institusi pendidikan, pemenuhan standar belajar yang layak tetap menjadi tantangan struktural yang besar, sekalipun hak dasar tersebut telah diatur secara formal melalui Undang-Undang Hak atas Pendidikan (RTE) India.






