Pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) berbasis data satelit bernama Iwak berhasil menekan biaya operasional nelayan di Cilacap hingga sekitar 23 persen, sekaligus mendongkrak pendapatan rata-rata mereka hingga 68 persen. Inovasi ini hadir sebagai solusi atas tingginya risiko kerugian yang kerap dihadapi nelayan tradisional saat berangkat melaut.
Sebelum adopsi teknologi tersebut, catatan startup MetaSeaco menunjukkan bahwa sekitar 41 persen dari total 6.806 perjalanan melaut di kawasan Cilacap Selatan, Jawa Tengah, berujung pada kerugian. Tingginya ketidakpastian lokasi berkumpulnya ikan serta penentuan waktu berlayar yang kurang presisi menjadi faktor utama pembengkakan biaya bahan bakar dan perbekalan.
Optimasi Rute dan Prediksi Tangkapan
Untuk mengatasi kendala operasional tersebut, MetaSeaco鈥攕tartup jebolan program Pertamuda milik Pertamina鈥攎engembangkan Iwak. Sistem ini mengolah data satelit dan algoritma AI guna memandu nelayan menentukan jadwal melaut terbaik, memetakan jenis ikan yang menjadi sasaran, hingga merekomendasikan titik koordinat penangkapan yang potensial.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Saat ini, teknologi Iwak telah diimplementasikan secara aktif pada 15 perahu nelayan di Cilacap. Hasil pemantauan menunjukkan sistem ini memiliki akurasi prediksi yang bervariasi tergantung komoditas, yakni mencapai 91 persen untuk ikan tenggiri batang, 85 persen untuk bawal putih, dan 70 persen untuk ikan layur.
Penerapan koordinat presisi tersebut berdampak langsung pada efisiensi kerja nelayan. Angka perjalanan melaut yang mengalami kerugian berhasil ditekan dari 41 persen menjadi sekitar 30 persen. Dalam salah satu perjalanan yang mengandalkan titik koordinat dengan skor prediksi tinggi, nelayan tercatat mampu mengantongi pendapatan sekitar Rp 3 juta per trip.
Perluasan Program Melalui Desa Energi Berdikari
Keberhasilan adopsi teknologi di Cilacap mendorong Pertamina memperluas pemanfaatan inovasi ini melalui integrasi program Desa Energi Berdikari (DEB) dan Pertamuda. Rencana replikasi teknologi MetaSeaco ke berbagai komunitas binaan di sekitar wilayah operasi perseroan dipaparkan dalam ajang Festival Desa Energi Berdikari Pertamina 2026 di Grha Pertamina, Jakarta, Jumat (28/8/2026).
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Vice President CSR & SMEPP Management Pertamina, Rudi Ariffianto, menyampaikan bahwa kolaborasi ini diharapkan mampu memperluas dampak positif bagi 269 lokasi Desa Energi Berdikari yang dikelola perusahaan.
Selain digitalisasi sektor perikanan melalui MetaSeaco, festival tersebut juga memperkenalkan integrasi teknologi di sektor lain. Startup Terangin, yang meraih posisi Top 3 Pertamuda 2025 kategori Energy Future, membawa teknologi penghalau burung berbasis laser otomatis ke DEB Juntinyuat di Indramayu guna menekan serangan hama padi. Sementara itu, di DEB Nagari Katapiang, Pertamina bermitra dengan PT Global Vision Tech untuk memperkuat rantai nilai komoditas kelapa dari hulu hingga hilir.






