Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah mengkaji pemanfaatan pati singkong sebagai material peredam api (fire retardant) untuk meningkatkan efektivitas pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Riset ini meneliti penggabungan biomaterial berbasis singkong domestik dengan senyawa fosfat guna mengoptimalkan efisiensi air saat pemadaman vegetasi.
Dalam kajian yang dipaparkan Peneliti Kimia Molekuler BRIN Julinton, potensi utama pati singkong bersumber dari struktur polisakaridanya yang kaya akan gugus hidroksil. Karakteristik alami tersebut dapat dimodifikasi secara kimia melalui jalur fosforilasi maupun taut silang (cross-linking) untuk menyesuaikan viskositas, pembentukan lapisan film, retensi cairan, dan stabilitas formula saat diaplikasikan.
Cara Kerja Formulasi CASSA-P
Pengembangan teknologi peredam api ini dirumuskan dalam formula bernama CASSA-P. Di dalamnya, pati singkong tidak bekerja sendirian, melainkan difungsikan sebagai matriks biomaterial sekaligus sumber karbon yang dikombinasikan bersama ammonium polyphosphate (APP), air, dan bahan pembasah (wetting agent) berkonsentrasi rendah.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Secara teknis, cairan ini tidak bekerja dengan menghilangkan oksigen dari atmosfer di sekitar titik api. Mekanisme utamanya bertumpu pada pendinginan vegetasi, penguatan retensi cairan, dan pengubahan jalur dekomposisi termal bahan bakar hayati. Saat terpapar panas, APP akan melepaskan spesies asam fosfat dan polifosfat yang mempercepat dehidrasi material kaya selulosa dan polisakarida. Proses pirolisis tersebut kemudian diarahkan untuk membentuk residu karbon padat (char) yang berfungsi menghambat kobaran api.
Rencana Operasional dan Pengujian Lapangan
Cairan retardan CASSA-P dirancang fleksibel untuk kebutuhan taktis pemadaman, baik melalui regu darat maupun penyemprotan presisi dari udara menggunakan pesawat atau wahana nirawak (drone).
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Kendati menunjukkan potensi teknis, BRIN menegaskan bahwa pengujian lanjutan tetap menjadi keharusan sebelum formula ini diterapkan secara massal. Validasi terukur di laboratorium dan uji coba lapangan masih terus dilakukan guna memastikan aspek keselamatan serta meminimalkan dampak ekologis. Evaluasi lingkungan tersebut meliputi pengujian tingkat biodegradabilitas, fitotoksisitas pada tanaman sekitar, dampak pada organisme tanah dan air, laju pelepasan senyawa fosfat serta nitrogen, hingga karakteristik residu setelah proses pembakaran selesai.






