Pendiri platform investasi saham pra-IPO Linqto, William Sarris, resmi dijerat dakwaan pidana oleh jaksa federal Amerika Serikat. Sarris dituding menjalankan skema penipuan yang merugikan puluhan ribu investor dengan memanipulasi ketersediaan dan valuasi saham perusahaan rintisan sebelum melantai di bursa.
Dalam berkas dakwaan, jaksa mengungkapkan bahwa Sarris secara sengaja merekayasa persepsi kelangkaan palsu atas saham-saham perusahaan swasta yang dikelolanya. Trik manipulasi pasokan ini digunakan untuk mengerek harga jual (markup) kepada para nasabah demi melipatgandakan pendapatan Linqto.
Praktik penggelembungan harga tersebut dilaporkan tetap dijalankan kendati tim hukum internal perusahaan telah berulang kali memperingatkan bahwa langkah itu berpotensi kuat menabrak aturan hukum pasar modal.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Akibat perbuatannya, Sarris kini menghadapi empat dakwaan berat, yakni penipuan sekuritas, penipuan broker-dealer, penipuan transaksi kawat (wire fraud), hingga dakwaan konspirasi. Kuasa hukum Sarris membantah seluruh tuduhan yang dialamatkan kepada kliennya dan menyatakan akan menempuh perlawanan di pengadilan.
Di sisi lain, mantan eksekutif Linqto, Joseph Endoso, telah menyatakan pengakuan bersalah atas keterlibatannya dalam skema tersebut. Endoso kini bersikap kooperatif dan membantu aparat penegak hukum membongkar aliran transaksi serta rekayasa penetapan harga yang terjadi di platform.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Kasus ini memicu guncangan operasional besar di tubuh Linqto. Sejak Januari 2025, manajemen perusahaan telah dirombak total dan mulai membuka akses data kepada Securities and Exchange Commission (SEC). Memasuki awal 2025, Departemen Kehakiman AS turut membuka penyelidikan pidana mandiri, yang kemudian mendorong Linqto mendaftarkan perlindungan kepailitan demi mengamankan dana serta hak aset nasabah di tengah ketidakpastian status kepemilikan saham.
Skandal ini memperluas pengawasan otoritas terhadap sektor investasi pra-IPO. SEC saat ini tengah melayangkan permintaan bukti legalitas kepemilikan aset kepada sejumlah manajer investasi terdaftar yang menawarkan instrumen serupa. Pengawasan ketat ini dipicu oleh maraknya risiko produk investasi sekunder, termasuk temuan salah satu entitas pengelola dana yang mempromosikan eksposur saham SpaceX tetapi ternyata telah menjual portofolio tersebut sebelum jadwal penawaran umum perdana, sehingga memangkas potensi imbal hasil yang seharusnya diterima para pemodal.






