Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di zona merah pada perdagangan akhir pekan, Jumat (28/8/2026). Sempat menguat signifikan di awal perdagangan, indeks saham domestik berbalik arah menjelang penutupan pasar.
Berdasarkan data IDX Mobile, IHSG mengawali hari dengan dibuka pada posisi 6.535,72 dan melaju hingga menyentuh level tertinggi harian di 6.566,90. Tekanan jual yang meningkat kemudian menekan pergerakan indeks hingga sempat terperosok ke titik terendah 6.495,74. IHSG akhirnya mengakhiri sesi perdagangan dengan ditutup koreksi tipis 3,63 poin atau 0,06% ke posisi 6.518,12, turun dari penutupan hari sebelumnya di level 6.521,75.
Aktivitas transaksi di Bursa Efek Indonesia membukukan nilai turnover sebesar Rp14,86 triliun dengan volume perdagangan mencapai 33,30 miliar lembar saham. Frekuensi transaksi tercatat sebanyak 1,97 juta kali. Pergerakan saham secara keseluruhan didominasi pelemahan, di mana 348 saham terkoreksi, 290 saham menguat, dan 325 saham bergerak stagnan.
Pelemahan Sektor Kesehatan dan Energi Tekan Indeks
Pelemahan IHSG dipicu oleh koreksi sejumlah sektor saham, dipimpin sektor kesehatan yang anjlok paling dalam sebesar 1,76%. Sektor energi turut melemah 1,07%, diikuti sektor utilitas yang terkoreksi 1,02%, jasa pendidikan turun 0,82%, serta sektor bahan dasar yang tergerus 0,80%. Selain itu, sektor konsumer primer dan properti masing-masing menyusut 0,25% dan 0,14%.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Di sisi lain, sektor keuangan mencatatkan penguatan terbesar dengan kenaikan 0,83%, disusul sektor teknologi yang menguat 0,62%, sektor konsumer non-primer naik 0,41%, dan sektor industri bertambah 0,23%.
Secara individual, emiten batu bara PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menjadi beban utama pergerakan indeks dengan kontribusi negatif mencapai 7,37 poin. Pelemahan IHSG juga dibebani oleh PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) sebesar 3,04 poin, PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ) 2,77 poin, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) 2,38 poin, serta PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) sebesar 1,79 poin.
Penurunan indeks tertahan oleh performa saham perbankan dan infrastruktur. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi penopang terbesar dengan menyumbang 7,05 poin, disusul PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sebesar 6,22 poin, dan PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) sebesar 5,87 poin. Saham lain yang menopang laju indeks mencakup PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) sebesar 3,93 poin, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) 3,48 poin, serta PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) 2,46 poin.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Pergerakan Dana Asing
Berdasarkan data Stockbit Sekuritas pada sesi I, aktivitas investor asing di seluruh pasar mencatatkan aksi beli (foreign buy) senilai Rp2,08 triliun dan aksi jual (foreign sell) senilai Rp2,21 triliun. Catatan tersebut menghasilkan posisi jual bersih (net foreign sell) investor asing sebesar Rp125,08 miliar.
Di tengah aksi jual bersih tersebut, saham BBCA menjadi incaran utama investor asing dengan nilai beli bersih (foreign net buy) mencapai Rp358,24 miliar. Posisi berikutnya ditempati oleh PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dengan net buy asing sebesar Rp89,86 miliar dan BMRI senilai Rp80,86 miliar. Saham perbankan lainnya, BBRI dan BBNI, turut mencatat akumulasi beli bersih asing masing-masing sebesar Rp28,23 miliar dan Rp25,34 miliar.






