Kecelakaan fatal menimpa penerbangan Air New Zealand TE 901 setelah pesawat McDonnell-Douglas DC10-30 menabrak lereng Gunung Erebus di Antartika. Tragedi ini menewaskan seluruh 257 orang di dalam pesawat, yang terdiri atas 237 penumpang dan 20 awak pesawat, tanpa ada satu pun korban yang selamat.
Pesawat yang melayani rute penerbangan wisata dari Auckland menuju Antartika tersebut menghantam lereng gunung pada ketinggian 1.500 kaki dengan kecepatan 260 knot. Benturan terjadi saat armada berada dalam posisi terbang lurus dan mendatar di bawah kendali mode autopilot.
Kronologi dan Transmisi Terakhir
Berdasarkan laporan resmi Komisi Kerajaan Selandia Baru (Royal Commission), insiden kecelakaan ini terjadi pada 28 November 1979. Sebelum benturan terjadi, kru sempat melaporkan posisi pesawat berada di 43 mil sebelah utara pada ketinggian 18.000 kaki.
Pihak kru kemudian meminta izin untuk menurunkan ketinggian dalam kondisi Visual Meteorological Conditions (VMC). Tak lama berselang, pesawat mengonfirmasi tengah bergerak turun ke ketinggian 10.000 kaki sembari meminta bantuan let-down radar guna menembus lapisan awan.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Dalam transmisi radio terakhir yang berhasil diterima, kru mengabarkan bahwa posisi pesawat telah berada di ketinggian 6.000 kaki dan terus bergerak turun menuju 2.000 kaki sebelum akhirnya hilang kontak akibat menabrak gunung.
Perubahan Koordinat Tanpa Pemberitahuan
Hasil investigasi Royal Commission menemukan bahwa tragedi pesawat tabrak gunung saat mode autopilot ini bermula dari kegagalan sistemik divisi Operasi Penerbangan Air New Zealand. Tim operasi darat tercatat mengubah titik koordinat rute pada komputer navigasi tanpa memberitahukan atau memperingatkan kru yang bertugas.
Perubahan garis bujur tersebut menggeser jalur penerbangan sejauh 27 mil ke arah timur. Jalur yang semula aman mendadak bergeser tepat mengarah ke Gunung Erebus di Pulau Ross. Padahal, Kapten Pilot Collins bersama kru meyakini sistem autopilot mengarahkan pesawat menyusuri kawasan datar McMurdo Sound, sesuai dengan rute yang telah diplot pada peta malam sebelum keberangkatan.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Ilusi Optik di Langit Antartika
Kondisi lingkungan Antartika turut memperburuk situasi di kokpit. Pantulan cahaya redup dari bawah lapisan awan ke permukaan salju putih menciptakan ilusi optik sektoral. Fenomena ini membuat lereng gunung yang menanjak terlihat seolah-olah hamparan daratan yang sepenuhnya mendatar.
Kombinasi data autopilot yang melenceng dan ilusi visual tersebut membuat lima orang yang berada di dalam kokpit sama sekali tidak menyadari rintangan tebing es di hadapan mereka hingga benturan fatal terjadi.






