PT Kimia Farma (Persero) Tbk (KAEF) mulai memetik hasil positif dari langkah restrukturisasi fundamental yang dijalankan secara menyeluruh. Emiten farmasi pelat merah ini berhasil membalikkan kinerja keuangan hingga mencetak laba bersih sebesar Rp54,07 miliar pada semester I-2026, melanjutkan tren perbaikan yang didorong oleh arahan pemegang saham pengendali, Danantara.
Pencapaian tersebut menegaskan pemulihan performa operasional perseroan setelah sebelumnya menekan rugi bersih dari Rp842 miliar sepanjang 2024 menjadi Rp334,9 miliar pada 2025. Pada paruh pertama 2026, penjualan neto KAEF tumbuh 7,6 persen menjadi Rp4,70 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp4,36 triliun. Seiring dengan efisiensi biaya, laba usaha perseroan melonjak 111,3 persen dari Rp72,01 miliar menjadi Rp152,21 miliar.
Direktur Utama KAEF Djagad Prakasa Dwialam menyampaikan bahwa percepatan transformasi ini didorong oleh dukungan Danantara. KAEF berfokus pada pembenahan tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance), restrukturisasi keuangan, penataan portofolio produk, optimalisasi efisiensi operasional, penyelesaian kewajiban strategis masa lalu, serta penguatan digitalisasi.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Fokus Produk Margin Tinggi dan Digitalisasi Ritel
Untuk mengatasi inefisiensi pabrik dan mendongkrak profitabilitas, KAEF merestrukturisasi strategi produksi dengan mengalihkan fokus kapasitas manufaktur pada produk-produk unggulan bermargin tinggi yang memiliki kepastian serapan pasar solid. Di saat yang sama, perseroan terus memperbesar pemanfaatan bahan baku obat (BBO) produksi dalam negeri guna menekan beban impor dan memperkuat ketahanan pasokan.
Transformasi operasional juga diterapkan secara masif pada jaringan ritel Kimia Farma Apotek. KAEF meninggalkan sistem pencatatan manual dan beralih ke sistem teknologi informasi terintegrasi (end-to-end) yang menghubungkan ribuan apotek di berbagai wilayah Indonesia secara real-time.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Sistem digitalisasi tata kelola ini memungkinkan manajemen melacak alur distribusi obat dan ketersediaan stok secara presisi di setiap lapisan operasional. Manajemen KAEF juga menegaskan komitmennya untuk terus menjadikan arahan dari COO Danantara Dony Oskaria sebagai landasan penguatan eksekusi strategi bisnis ke depan.






