Antrean panjang pendaftaran kelas pendidikan anak kini tidak lagi didominasi oleh bimbingan belajar akademis konvensional di China. Belakangan ini, para orang tua di negara tersebut sedang gandrung mengirimkan anak-anak mereka ke kamp kecerdasan finansial (financial intelligence atau FQ). Tujuannya sangat spesifik: mereka ingin melatih dan mencetak sosok mirip investor legendaris dunia, Warren Buffett, sejak usia dini. Fenomena ini memicu lonjakan permintaan yang luar biasa, bahkan hingga membuat antrean pemesanan tempat di berbagai kamp pelatihan kerap terisi penuh beberapa bulan sebelum kelas resmi dimulai.
Untuk bisa memasukkan anak ke dalam program pelatihan ini, para orang tua harus merogoh kocek yang tidak sedikit. Biaya pendaftarannya dibanderol mulai dari US$1.900 atau sekitar Rp34 juta per anak. Dengan biaya sebesar itu, anak-anak akan menjalani pelatihan intensif yang biasanya berlangsung selama 7 hingga 10 hari. Waktu yang relatif singkat tersebut dimanfaatkan secara padat untuk menanamkan pemahaman dasar mengenai uang dan bisnis, dengan harapan anak-anak dapat mengadopsi mentalitas kelas atas dalam mengelola kekayaan sejak masa kecil mereka.
Selama mengikuti kamp, para peserta cilik disuguhi materi yang dirancang menyerupai aktivitas dunia kerja orang dewasa. Mereka diajarkan dasar-dasar literasi keuangan, pengelolaan harta, hingga simulasi bisnis terapan. Di dalam ruang pelatihan, suasana kompetitif dan motivasional sengaja dibangun. Slogan-slogan pemantik semangat seperti "Kemiskinan bukanlah status, melainkan pola pikir" sering kali terdengar menggema untuk mendorong rasa percaya diri para peserta dalam mengambil keputusan finansial.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Salah satu lembaga yang menyelenggarakan pelatihan ini adalah Daxiang Teenage FQ Summer Camp. Di lembaga ini, para instruktur membuat simulasi pasar saham, pertemuan dengan investor, hingga berbagai skenario perdagangan yang dinamis. Tidak hanya sekadar bermain peran, anak-anak yang menjadi peserta juga dibimbing untuk mengevaluasi keuntungan dan kerugian secara mandiri di setiap penghujung hari. Melalui evaluasi harian ini, mereka diajak memahami konsep risiko dan konsekuensi dari setiap keputusan investasi yang mereka ambil selama simulasi berlangsung.
Model pembelajaran interaktif lainnya ditawarkan oleh kamp FQ Little General. Di kamp ini, fokus pembelajaran diarahkan pada kegiatan lapangan dan kewirausahaan praktis. Para peserta diajak untuk mengidentifikasi peluang bisnis potensial di sekitar mereka, menjual barang-barang kecil di kios jalanan, menyusun rencana bisnis yang terstruktur, hingga menyiapkan laporan keuangan secara sederhana. Bagi orang tua yang menginginkan materi lebih mendalam, beberapa penyelenggara juga menawarkan program lanjutan dengan harga yang lebih tinggi. Program kelas atas ini dirancang khusus untuk mengembangkan keterampilan kepemimpinan atau kewirausahaan di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM).
Keberadaan kamp finansial ini mendatangkan respons yang beragam dari para orang tua yang telah mendaftarkan anak mereka. May, seorang ibu yang tinggal di Provinsi Zhejiang, membagikan pengalaman positif mengenai perubahan perilaku putrinya setelah menyelesaikan program pelatihan tersebut. Menurut penuturannya, putrinya yang sebelumnya tergolong malas kini menjadi jauh lebih fokus dalam belajar. Perubahan ini terjadi karena sang anak sekarang memiliki tujuan hidup yang jelas, yaitu ingin menghasilkan uang secara mandiri di masa depan.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Meskipun demikian, tren pendidikan finansial instan ini tidak luput dari kekhawatiran dan kritik. Sebagian orang tua mulai merasa cemas bahwa anak-anak mereka justru tumbuh menjadi pribadi yang terlalu berorientasi pada uang. Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan, sebab beberapa peserta dilaporkan mulai meminta imbalan finansial kepada orang tua mereka setiap kali diminta menyelesaikan tugas sekolah atau melakukan pekerjaan rumah tangga yang biasa. Hubungan keluarga pun dikhawatirkan bergeser menjadi hubungan transaksional akibat doktrin keuangan yang terlalu dini.
Kritik tajam juga datang dari seorang ibu di Henan yang menilai kamp semacam ini memberikan ilusi kesuksesan yang instan kepada anak-anak. Ia mengingatkan bahwa dunia bisnis yang sebenarnya jauh lebih kejam daripada apa yang disimulasikan di dalam kelas. Menurutnya, mayoritas bisnis rintisan (startup) di dunia nyata justru mengalami kegagalan pada tahun-tahun awal. Dengan demikian, simulasi yang disajikan di kamp FQ dianggap tidak mencerminkan tantangan dunia usaha yang sebenarnya, sehingga dikhawatirkan dapat membuat anak-anak tidak siap menghadapi kegagalan yang sesungguhnya saat mereka dewasa nanti.






