Ajang penghargaan ESG Award 2026 yang diinisiasi oleh Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) kembali menyoroti komitmen keberlanjutan sektor korporasi di tanah air. Dalam malam penganugerahan yang berlangsung di Jakarta pada Kamis, 6 Agustus 2026, PT Unilever Indonesia Tbk berhasil membawa pulang penghargaan Best Emiten untuk kategori Capital Market. Penghargaan prestisius ini diterima secara langsung oleh Nurdiana Darus selaku Direktur Communications, Corporate Affairs & Sustainability Unilever Indonesia. Kemenangan ini menandai pencapaian kedua bagi perseroan, setelah sebelumnya sukses meraih penghargaan serupa pada tahun 2023.
Penilaian dalam ESG Award didasarkan pada tiga pilar utama, yaitu lingkungan (Environmental), sosial (Social), dan tata kelola (Governance). Bagi perusahaan consumer goods skala besar seperti Unilever, pengelolaan dampak lingkungan kerap menjadi sorotan tajam publik. Menjawab tantangan tersebut, perseroan melaporkan keberhasilan mengumpulkan dan memproses lebih dari 80.000 ton sampah plastik sepanjang tahun 2025. Angka ini melampaui total volume kemasan plastik yang digunakan dalam produk-produk yang mereka pasarkan pada periode yang sama. Upaya pengumpulan sampah ini bertumpu pada jaringan operasional yang mencakup lebih dari 5.000 bank sampah di 50 kota dan kabupaten, didukung oleh kehadiran hampir 2.900 gerai isi ulang di berbagai daerah.
Meskipun langkah pengumpulan sampah plastik tergolong masif, tantangan sesungguhnya terletak pada pengurangan penggunaan material baru sejak dari hulu produksi. Dalam catatan kinerjanya, Unilever Indonesia menggunakan sekitar 3.044 ton plastik daur ulang pasca-konsumsi (Post-Consumer Recycled/PCR) untuk kemasan produk mereka. Langkah ini berkontribusi terhadap penurunan penggunaan plastik baru sebesar 20% jika dibandingkan dengan tahun dasar 2019. Keberhasilan menyeimbangkan antara produksi kemasan baru dan penyerapan plastik daur ulang menjadi salah satu poin penting yang dinilai oleh panel juri KEHATI dalam menentukan kelayakan emiten di pasar modal.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Di sisi lain, aspek sosial dan keselamatan kerja juga menjadi indikator krusial dalam penilaian indeks keberlanjutan ini. Unilever Indonesia mencatatkan nihil kecelakaan kerja yang mengakibatkan kematian (zero fatal work accidents) di seluruh area operasionalnya. Dari sudut pandang kesetaraan gender di lingkungan kerja, keterwakilan perempuan di tingkat pengambil keputusan juga cukup signifikan, dengan porsi 43,2% pada posisi manajerial senior. Sementara itu, untuk menjamin keamanan konsumen lokal, seluruh fasilitas pabrik perusahaan kini telah menerapkan Sistem Jaminan Halal (SJH). Terkait kualitas nutrisi, perseroan menyatakan bahwa 87% dari produk makanan mereka telah memenuhi standar Highest Nutrition Standard (HNS), sebuah formula yang merujuk pada standar internal perusahaan serta rekomendasi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Meskipun mencatatkan berbagai pencapaian operasional di lapangan, evaluasi tata kelola perusahaan tetap menunjukkan dinamika angka yang bervariasi dari lembaga pemeringkat independen. Dalam hal tata kelola korporasi, Unilever Indonesia mempertahankan predikat 'Leadership in Corporate Governance' selama delapan tahun berturut-turut dengan skor ASEAN Corporate Governance Scorecard (ACGS) sebesar 111,13. Pengawasan implementasi ESG di tingkat internal dijalankan secara berlapis oleh Direksi, Business Integrity Committee, serta Central Safety, Health and Environmental Committee. Perseroan juga mempertahankan peringkat PROPER Biru untuk seluruh fasilitas produksinya selama tiga tahun berturut-turut dari kementerian terkait. Namun, jika melihat penilaian pasar modal global dan domestik, terdapat perbedaan angka evaluasi yang cukup kontras. Perseroan mencatatkan S&P Global ESG Score di angka 52, sedangkan IDX ESG Score berada pada posisi 18,21. Perbedaan rentang skor ini mencerminkan kompleksitas metodologi penilaian yang diterapkan oleh masing-masing lembaga rating terhadap kepatuhan emiten.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Bagi para pelaku ekonomi digital dan investor di Indonesia, perolehan penghargaan ESG Award 2026 oleh Unilever Indonesia memberikan gambaran nyata mengenai bagaimana standar keberlanjutan diterapkan pada skala industri besar. Di satu sisi, integrasi sistem pemantauan lingkungan dan sosial yang ketat dapat meminimalkan risiko operasional jangka panjang. Di sisi lain, fluktuasi skor ESG dari lembaga eksternal seperti S&P dan IDX menunjukkan bahwa pemenuhan kriteria keberlanjutan merupakan proses evaluasi yang dinamis dan terus berkembang. Melalui pencapaian ini, peta jalan keberlanjutan emiten di pasar modal Indonesia diharapkan dapat terus memicu peningkatan standar operasional yang lebih transparan dan bertanggung jawab.






