Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau masih terdeteksi meluas pada Senin (7/9/2026) pagi. Berdasarkan pantauan meteorologi, partikel debu vulkanik tersebut bahkan teramati telah mencapai wilayah Jakarta dan sejumlah kawasan di sekitarnya.
Data tersebut dihimpun dari analisis citra satelit RGB Himawari-9 yang disinkronisasikan dengan laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) serta Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC) Darwin per pukul 06.00 WIB. Dari pemantauan tersebut, otoritas mengidentifikasi adanya dua klaster utama pergerakan debu vulkanik di atmosfer.
Pemetaan Dua Klaster dan Potensi Dampaknya
Klaster pertama mencakup area daratan dan perairan di sebagian Banten, Jawa Barat, Lampung, hingga Bengkulu, termasuk wilayah Samudra Hindia di sebelah barat wilayah-wilayah tersebut. Sebaran abu pada klaster ini terpantau berada pada ketinggian 15.000 kaki atau sekitar 4,57 kilometer, dengan arah pergerakan dari tenggara menuju barat laut. Pada ketinggian ini, konsentrasi debu berpotensi menurunkan jarak pandang dan memengaruhi kualitas udara di wilayah daratan yang terlintasi.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Sementara itu, klaster kedua terdeteksi berada di atas Samudra Hindia pada posisi sebelah barat hingga barat daya Bengkulu, Lampung, dan Banten. Pola pergerakan klaster ini mengarah ke barat daya hingga barat serta bergerak menjauhi daratan Indonesia.
Kendati arahnya menjauh, klaster kedua membubung jauh lebih tinggi hingga mencapai 50.000 kaki atau sekitar 15,24 kilometer. Ketinggian lapisan ini menjadi perhatian khusus karena berada langsung pada koridor jalur jelajah pesawat terbang, sehingga dampaknya terutama berpusat pada operasional keselamatan penerbangan.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Masyarakat di wilayah terdampak serta operator penerbangan diimbau untuk terus memperhatikan pembaruan informasi cuaca dan keselamatan dari BMKG serta instansi terkait guna mengantisipasi perubahan dinamika angin dan konsentrasi abu vulkanik.






