Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis pemutakhiran data korban dan kerusakan pascabencana gempa bumi bermagnitudo (M) 7,7 yang melanda kawasan Nusa Tenggara Timur (NTT). Berdasarkan data resmi yang dihimpun hingga Kamis (10/9/2026), jumlah korban meninggal dunia dilaporkan bertambah menjadi 135 orang.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, memaparkan rincian faktor penyebab kematian para korban. Dari total 135 korban jiwa, sebanyak 48 orang dilaporkan meninggal dunia akibat dampak langsung dari gempa, sementara 87 orang lainnya meninggal dunia akibat dampak tidak langsung.
Selain korban jiwa, bencana ini juga menimbulkan korban luka-luka dan gelombang pengungsian berskala besar. BNPB mencatat sebanyak 1.762 warga mengalami luka-luka, sementara 60.572 penduduk terpaksa mengungsi dari permukiman mereka ke titik-titik pengungsian darurat demi keselamatan.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Sebaran Kerusakan Rumah dan Fasilitas Publik
Guncangan berkekuatan M 7,7 tersebut turut memicu kerusakan masif pada sektor perumahan dan sarana infrastruktur publik. Tercatat sebanyak 98.986 unit rumah warga mengalami kerusakan struktural di berbagai wilayah terdampak NTT.
Rincian kerusakan rumah warga mencakup: - 26.089 unit rumah rusak berat - 22.505 unit rumah rusak sedang - 50.392 unit rumah rusak ringan
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Kerusakan sarana umum juga meluas ke fasilitas pelayanan dasar masyarakat. Data BNPB menunjukkan sebanyak 712 unit fasilitas pendidikan, 620 tempat ibadah, dan 157 fasilitas kesehatan mengalami kerusakan akibat guncangan.
Sektor perkantoran dan infrastruktur vital turut terganggu dengan tercatatnya 663 unit gedung kantor yang terdampak, 175 titik jalan mengalami kerusakan fisik, serta 47 fasilitas irigasi yang mengalami gangguan operasional.






