tartilybanjary.id
BerandaEkonomi & BisnisInvestasiEkonomi DigitalEkonomi Digital & PendapatanEkonomi & KeuanganBisnis DigitalKeuangan DigitalInvestasi & SahamDigital Economy & EarningFinansialInvestasi DigitalKeuanganLogistik & InfrastrukturDigital EconomyKeuangan PublikRegulasi PropertiEkonomi HijauKomunikasi BisnisHukum & BisnisKebijakan Publik
Beranda/Bisnis & Keuangan

Vale Indonesia Kantongi Laba Rp 1,89 Triliun pada Semester I 2026

Ance ManoppoDiterbitkan 30 Jul 2026 - 18.33 路 0 Dibaca
Bagikan WhatsAppX
Vale Indonesia Kantongi Laba Rp 1,89 Triliun pada Semester I 2026
Foto/Ilustrasi: cnbcindonesia.com.
A-A+

PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan yang signifikan sepanjang paruh pertama tahun 2026. Perusahaan tambang nikel ini berhasil mengantongi laba periode berjalan sebesar US$104,37 juta atau setara dengan Rp 1,89 triliun hingga semester I tahun 2026. Raihan laba tersebut melonjak pesat hingga 313,4 persen dibandingkan dengan capaian pada semester I tahun 2025 yang tercatat sebesar US$25,24 juta.

Lonjakan kinerja keuangan ini didorong oleh peningkatan pendapatan usaha serta efisiensi pada beban pokok. Sepanjang enam bulan pertama tahun 2026, pendapatan Vale Indonesia mencapai US$543,07 juta, atau meningkat 27,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar US$426,74 juta. Di sisi lain, beban pokok pendapatan perusahaan mengalami penurunan tipis sebesar 1,5 persen menjadi US$390,78 juta dari sebelumnya US$396,58 juta pada semester I tahun 2025. Hasilnya, laba bruto perusahaan meroket hingga 404,9 persen menjadi US$152,29 juta dari US$30,16 juta pada periode setahun lalu.

tartilybanjary.id

Copyright 2026 tartilybanjary.id - All Rights Reserved.

Kategori

Ekonomi & BisnisInvestasiEkonomi DigitalEkonomi Digital & PendapatanEkonomi & KeuanganBisnis DigitalKeuangan DigitalInvestasi & SahamDigital Economy & EarningFinansialInvestasi DigitalKeuanganLogistik & InfrastrukturDigital EconomyKeuangan PublikRegulasi PropertiEkonomi HijauKomunikasi BisnisHukum & BisnisKebijakan PublikEkonomiEkonomi Digital & Bisnis
Ekonomi
Ekonomi Digital & Bisnis
Ekonomi Lokal
Regulasi & Tata Kelola
Hukum & Regulasi
Ekonomi & Pembangunan
Ekonomi & Regulasi
Keamanan Data
Berita Lokal
Ekonomi Makro
Otomotif
Investasi & Keuangan
Nasional
Kebijakan Ekonomi
Infrastruktur
Layanan Publik
Transportasi & Bisnis
Ekonomi & Kebijakan Publik
Kesehatan Konsumen
Ekonomi Global
Populer

Pertumbuhan kinerja operasional juga terlihat dari perolehan laba usaha perusahaan yang melonjak drastis. Laba usaha Vale Indonesia tercatat sebesar US$134,14 juta pada semester I tahun 2026, naik sekitar 2.056,6 persen dibandingkan semester I tahun 2025 yang sebesar US$6,22 juta. Peningkatan laba usaha ini dicapai kendati beban usaha mengalami kenaikan sebesar 8,0 persen dari US$15,54 juta menjadi US$16,78 juta. Kinerja operasional perusahaan turut terdorong oleh lonjakan tajam pada pendapatan lainnya yang mencapai US$12,77 juta, naik 6.221,8 persen dari posisi semester I tahun 2025 yang hanya senilai US$202 ribu.

Baca Juga

Faktor Pendorong IHSG Melesat Lebih dari 1 Persen pada 30 Juli 2026

Faktor Pendorong IHSG Melesat Lebih dari 1 Persen pada 30 Juli 2026

Pada pos non-operasional, pendapatan keuangan emiten tambang ini mengalami penurunan sebesar 59,1 persen menjadi US$6,21 juta dibandingkan US$15,20 juta pada semester pertama tahun sebelumnya. Sementara itu, biaya keuangan tercatat membengkak 62,6 persen menjadi US$6,64 juta dari sebelumnya US$4,08 juta. Melalui akumulasi dinamika tersebut, laba sebelum pajak perusahaan tetap tumbuh pesat 267,1 persen menjadi US$133,86 juta dibanding US$36,46 juta pada periode yang sama tahun lalu, walau beban pajak penghasilan naik 162,8 persen menjadi US$29,48 juta dari US$11,22 juta.

Di samping laba, perusahaan mencatat kerugian komprehensif lain sebesar US$3,95 juta pada semester I tahun 2026, berbalik dari posisi keuntungan komprehensif lain sebesar US$1,32 juta pada semester I tahun 2025. Kerugian komprehensif lain ini terutama berasal dari selisih kurs penjabaran laporan keuangan pada entitas asosiasi. Kendati demikian, total jumlah penghasilan komprehensif periode berjalan perseroan tetap melesat 277,9 persen menjadi US$100,43 juta dari US$26,57 juta pada semester I tahun 2025.

Baca Juga

Analisis Faktor Penyebab Turunnya Harga Minyak Dunia di Bawah US$90

Analisis Faktor Penyebab Turunnya Harga Minyak Dunia di Bawah US$90

Mengenai posisi likuiditas, saldo kas dan setara kas perseroan per 30 Juni 2026 tercatat sebesar US$111 juta. Angka ini mengalami penurunan dari posisi per 31 Maret 2026 yang tercatat sebesar US$220 juta. Perubahan posisi kas tersebut terutama mencerminkan alokasi dana untuk mendukung aktivitas investasi perusahaan yang terus berlangsung sepanjang periode berjalan. Salah satu capaian strategis investasi tersebut ditandai dengan kedatangan alat autoclave untuk Proyek HPAL Sambalagi, yang merupakan komponen utama dari pengembangan Indonesia Growth Project (IGP) Morowali milik PT Vale Indonesia Tbk.

Ikuti tartilybanjary.id

Tambahkan ke sumber pilihan di Google

Topik Terkait

Pasar ModalLaporan KeuanganLaba BersihVale IndonesiaINCOSaham Tambang

Berita Terbaru Lainnya

Faktor Pendorong IHSG Melesat Lebih dari 1 Persen pada 30 Juli 2026Analisis Faktor Penyebab Turunnya Harga Minyak Dunia di Bawah US$90IHSG Menguat 0,72 Persen di Sesi I 30 Juli 2026, Saham Perbankan Jadi Penopang UtamaMenyiasati Peluang Bisnis Daerah di Tengah Keterbatasan Fiskal dan Rencana Anggaran 2027Cara Membaca Peluang Bisnis dari Transisi Industri Otomotif IndonesiaCara Memastikan Laporan LHKPN dan Gratifikasi Sesuai Ketentuan KPKMewaspadai Modus Ganjal ATM, Pelajaran dari Kasus Penyergapan di PamulangDampak Kebijakan Pengetatan Impor Gula Rafinasi terhadap Ekonomi Petani Tebu

Paling Banyak Dibaca

Analisis Faktor Penyebab Turunnya Harga Minyak Dunia di Bawah US$90

Ekonomi Digital

Analisis Faktor Penyebab Turunnya Harga Minyak Dunia di Bawah US$90

30 Jul 2026

Faktor Pendorong IHSG Melesat Lebih dari 1 Persen pada 30 Juli 2026

Finance

Faktor Pendorong IHSG Melesat Lebih dari 1 Persen pada 30 Juli 2026

30 Jul 2026

IHSG Menguat 0,72 Persen di Sesi I 30 Juli 2026, Saham Perbankan Jadi Penopang Utama

Pasar Saham

IHSG Menguat 0,72 Persen di Sesi I 30 Juli 2026, Saham Perbankan Jadi Penopang Utama

30 Jul 2026

Menyiasati Peluang Bisnis Daerah di Tengah Keterbatasan Fiskal dan Rencana Anggaran 2027

Ekonomi Digital

Menyiasati Peluang Bisnis Daerah di Tengah Keterbatasan Fiskal dan Rencana Anggaran 2027

30 Jul 2026

Cara Membaca Peluang Bisnis dari Transisi Industri Otomotif Indonesia

Ekonomi Digital

Cara Membaca Peluang Bisnis dari Transisi Industri Otomotif Indonesia

30 Jul 2026

Cara Memastikan Laporan LHKPN dan Gratifikasi Sesuai Ketentuan KPK

Regulasi & Kepatuhan

Cara Memastikan Laporan LHKPN dan Gratifikasi Sesuai Ketentuan KPK

30 Jul 2026

馃敟

Populer

  1. 1Analisis Faktor Penyebab Turunnya Harga Minyak Dunia di Bawah US$90Ekonomi Digital 路 30 Jul 2026
  2. 2Faktor Pendorong IHSG Melesat Lebih dari 1 Persen pada 30 Juli 2026Finance 路 30 Jul 2026
  3. 3IHSG Menguat 0,72 Persen di Sesi I 30 Juli 2026, Saham Perbankan Jadi Penopang UtamaPasar Saham 路 30 Jul 2026
  4. 4Menyiasati Peluang Bisnis Daerah di Tengah Keterbatasan Fiskal dan Rencana Anggaran 2027Ekonomi Digital 路 30 Jul 2026
  5. 5Cara Membaca Peluang Bisnis dari Transisi Industri Otomotif IndonesiaEkonomi Digital 路 30 Jul 2026
Ekonomi Lokal
Regulasi & Tata Kelola
Hukum & Regulasi
Ekonomi & Pembangunan
Ekonomi & Regulasi
Keamanan Data
Berita Lokal
Ekonomi Makro
Otomotif
Investasi & Keuangan
Nasional
Kebijakan Ekonomi
Infrastruktur
Layanan Publik
Transportasi & Bisnis
Ekonomi & Kebijakan Publik
Kesehatan Konsumen
Ekonomi Global

Halaman

  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Penyangkalan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Editorial
  • Digital Millennium Copyright Act - DMCA
  • Sitemap