Pasar obligasi global mengalami tekanan setelah para investor memutuskan untuk melepas surat utang pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) secara masif. Aksi jual tersebut memicu lonjakan imbal hasil (yield) obligasi acuan AS di tengah memanasnya tensi geopolitik dan kekhawatiran terhadap tata kelola fiskal Washington.
Berdasarkan data pasar Refinitiv pada penutupan perdagangan Rabu (9/9), imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun tercatat merangkak naik ke posisi 4,845%. Pada saat yang sama, lonjakan lebih tajam terjadi pada surat utang bertenor panjang, di mana yield US Treasury tenor 30 tahun melesat ke level 5,295%.
Pemicu Pelepasan Obligasi AS dan Tekanan Fiskal
Aksi jual surat utang pemerintah AS berlangsung di tengah rencana Departemen Keuangan AS yang akan melakukan pembelian kembali (buyback) surat utang dalam jumlah besar dengan nilai maksimal mencapai USD 6 miliar.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Dalam program Squawk Box di CNBC Indonesia yang dipandu oleh Shania Alatas pada Jumat (11/09/2026), Ekonom CNBC Indonesia Research Maesaroh memaparkan bahwa pergerakan di pasar surat utang tersebut berkaitan erat dengan merosotnya kepercayaan pelaku pasar terhadap pengelolaan fiskal pemerintah AS. Faktor ketidakpastian ini semakin diperparah oleh eskalasi ketegangan antara AS dan Iran yang memicu kehati-hatian di kalangan investor global.
Potensi Dampak terhadap Nilai Tukar Rupiah
Pelepasan portofolio obligasi AS oleh investor internasional yang mendorong kenaikan yield obligasi acuan umumnya menjadi perhatian pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia. Ketika imbal hasil aset safe haven dan obligasi bertenor panjang AS meningkat, selisih imbal hasil obligasi negara berkembang cenderung menyempit.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Situasi ini memicu potensi peralihan modal global yang dapat memberi tekanan pada pergerakan nilai tukar rupiah dan pasar surat berharga negara domestik, terutama jika volatilitas di pasar global terus berlangsung seiring dinamika geopolitik AS dan Iran.






