PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mulai mematangkan strategi diversifikasi bisnis dan efisiensi operasional guna memperluas portofolio di luar penambangan batu bara konvensional. Langkah ini mencakup dorongan hilirisasi komoditas hingga adopsi armada kendaraan operasional berbasis listrik (electric vehicle/EV) di area tambang.
Direktur Utama PTBA Bambang Ismawan menyatakan optimisme perseroan dalam mengejar target produksi batu bara sebesar 48 juta ton pada 2026. Dari total volume tersebut, PTBA menetapkan alokasi sebesar 50 persen untuk memenuhi kewajiban pasokan kebutuhan dalam negeri atau Domestic Market Obligation (DMO).
Pergeseran Kualitas Pasokan dan Peluang Pasar
Langkah penyesuaian strategi ini berlangsung saat struktur cadangan komoditas mengalami perubahan. Saat ini ketersediaan batu bara berkalori tinggi terus menipis, sehingga porsi produksi didominasi oleh batu bara kalori menengah dan rendah.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Meskipun terdapat perubahan profil pasokan, serapan pasar global untuk batu bara kalori menengah tercatat masih kuat. Kondisi tersebut, ditambah dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah, menjaga stabilitas permintaan sekaligus pergerakan harga komoditas batu bara di pasar internasional.
Hilirisasi DME dan Elektrifikasi Tambang
Untuk merealisasikan diversifikasi bisnis beyond coal, PTBA fokus mempercepat agenda hilirisasi pada 2026 melalui proyek gasifikasi batu bara. Skema ini diarahkan untuk mengolah batu bara menjadi dimethyl ether (DME) sebagai subtitusi bahan bakar liquefied petroleum gas (LPG). Pembangunan pabrik pengolahan gasifikasi tersebut ditargetkan mulai berjalan pada 2027.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Di tingkat operasional, perseroan juga berupaya menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM). Hingga akhir 2026, PTBA menargetkan penurunan ketergantungan energi fosil pada operasional tambang dengan beralih menguji dan mengoperasikan kendaraan tambang listrik.
Pemaparan peta jalan transisi energi dan proyeksi operasional perseroan ini disampaikan oleh Bambang Ismawan dalam wawancara bersama Mercy Widjaja pada program Closing Bell CNBC Indonesia, Jumat (04/09/2026).






