Peluncuran instrumen exchange traded fund (ETF) berbasis emas oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Agustus 2026 mendapat respons positif dari kalangan pelaku industri reksa dana dan pasar modal domestik. Kehadiran instrumen baru ini dinilai membuka jalan baru bagi pendalaman pasar keuangan serta memberikan opsi diversifikasi yang lebih fleksibel bagi para pemodal.
Direktur Utama Recapital Asset Management, Nurdiaz Alvin Pattisahusiwa, menyambut baik langkah BEI tersebut dalam tayangan Power Lunch bersama Andi Shalini di CNBC Indonesia pada Rabu (09/09/2026). Menurutnya, ETF emas menjadi terobosan penting yang mempertemukan likuiditas transaksi bursa dengan stabilitas aset komoditas emas.
Peran Strategis bagi Pendalaman Pasar dan Manajer Investasi
Pelaku pasar memandang keberadaan ETF berbasis emas bukan sekadar penambahan variasi instrumen, melainkan pendorong utama dalam meningkatkan Asset Under Management (AUM) bagi para Manajer Investasi (MI). Melalui struktur ETF, investor dapat memperdagangkan unit penyertaan secara langsung di pasar sekunder dengan mekanisme harga riil sepanjang jam bursa.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Bagi investor pasar modal di Indonesia, instrumen ini menawarkan alternatif investasi yang lebih praktis dibandingkan kepemilikan emas fisik konvensional. Efisiensi transaksi dan transparansi harga menjadi daya tarik utama bagi pemodal yang ingin melindungi nilai portofolio mereka dari fluktuasi pasar.
Penguatan Portofolio Produk Pengelola Dana
Bagi manajer investasi seperti Recapital AM, kehadiran produk berbasis komoditas turut melengkapi portofolio pengelolaan dana yang ada. Hingga saat ini, Recapital AM telah mengelola 10 jenis produk investasi untuk melayani berbagai segmen pemodal, mulai dari nasabah ritel, institusi, hingga pemodal yang membutuhkan instrumen berbasis syariah.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Optimalisasi likuiditas ETF emas di bursa nantinya akan sangat bergantung pada peran aktif market maker atau dealer partisipan. Dengan menjaga ketersediaan kuotasi beli dan jual, market maker diharapkan mampu mempertahankan selisih harga (bid-ask spread) yang ketat sehingga menarik minat transaksi dari beragam lapisan investor secara berkelanjutan.






