Aksi kekerasan yang melibatkan aparat terjadi di Kampung Rangko, Desa Tanjung Boleng, Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Seorang warga setempat bernama Syarif menjadi korban penganiayaan oleh dua oknum prajurit TNI AD hingga mengalami luka lebam di bagian wajah dan harus dilarikan ke rumah sakit.
Peristiwa pemukulan tersebut berlangsung di halaman rumah korban pada Selasa, 8 September 2026, sekitar pukul 11.45 Wita. Penganiayaan terjadi di hadapan istri serta anak korban, dan turut disaksikan oleh sejumlah warga sekitar.
Adik kandung korban, Saprudin, mengonfirmasi insiden yang menimpa saudaranya tersebut. Akibat tindakan kekerasan dari kedua prajurit, kondisi Syarif mengalami pembengkakan parah serta luka lebam di area wajah sehingga memerlukan perawatan medis intensif di Rumah Sakit Siloam Labuan Bajo. Pihak keluarga juga telah menunjuk kuasa hukum guna mendampingi proses hukum Syarif.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Keterangan Dandim Manggarai Barat dan Identitas Pelaku
Komandan Kodim (Dandim) 1630/Manggarai Barat Letkol Inf Budiman Manurung membenarkan terjadinya aksi pemukulan terhadap warga sipil tersebut. Pihak Kodim telah memanggil dan meminta keterangan dari kedua oknum prajurit yang bersangkutan.
Berdasarkan keterangan Letkol Inf Budiman Manurung, kedua anggota TNI tersebut merupakan saudara kandung bernama Sertu Ari Yusril dan Pratu Ary Risda. Keduanya juga berasal dari kampung yang sama dengan korban.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Secara kedinasan, kedua prajurit tersebut bertugas di kesatuan berbeda. Sertu Ari Yusril tercatat berdinas di Kupang, sementara Pratu Ary Risda merupakan Bintara Pembina Desa (Babinsa) untuk Desa Golo Lajang di bawah naungan Koramil Macang Pacar, Manggarai Barat.
Budiman menjelaskan bahwa insiden pemukulan bermula ketika kedua prajurit itu berada di lokasi lahan yang sedang mengalami sengketa dengan pihak keluarga Syarif. Pemeriksaan internal terhadap kedua oknum prajurit tersebut kini telah berjalan menyusul laporan kekerasan yang terjadi di lapangan.






