Bagaimana perguruan tinggi dapat berkontribusi langsung mengatasi persoalan kemiskinan di masyarakat? Wakil Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo Priyono menegaskan pentingnya kampus mengambil peran aktif sebagai penggerak pengentasan kemiskinan melalui pengembangan ilmu pengetahuan, riset aplikatif, inovasi, dan program pemberdayaan masyarakat.
Pernyataan tersebut disampaikan saat ia menjadi narasumber dalam Seminar Nasional Hasil Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat XI (SNasPPM XI) yang diselenggarakan Universitas PGRI Ronggolawe (UNIROW), Kamis (27/8). Mengusung tema "Peran Strategis Pendidikan Tinggi untuk Membangun Generasi Tangguh Menuju Indonesia Emas 2045", seminar digelar secara hibrida dari Aula Lantai II UNIROW di Tuban, sementara Wamensos hadir secara daring dari kantor Kementerian Sosial di Jakarta.
Agus Jabo memaparkan bahwa persoalan kemiskinan tidak hanya berkutat pada nominal pendapatan, melainkan mencakup hambatan akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, gizi yang memadai, peningkatan keterampilan, permodalan usaha, hingga terbukanya kesempatan kerja. Dalam kerangka pemenuhan akses dasar tersebut, pemerintah menjalankan program seperti Sekolah Rakyat guna memperluas kesempatan belajar bagi anak-anak dari keluarga miskin dan kelompok rentan.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Dorong Gerakan Kampus Berdaya
Wamensos mengingatkan perguruan tinggi agar tidak membatasi ukuran keberhasilan akademik pada jumlah lulusan atau banyaknya publikasi jurnal semata. Dampak nyata riset terhadap peningkatan kesejahteraan warga harus menjadi indikator utama pengabdian kampus.
Kementerian Sosial saat ini terus mendorong pendekatan pemberdayaan ekonomi yang memadukan pelatihan keterampilan terarah, pendampingan kewirausahaan, serta dukungan bantuan permodalan. Sejalan dengan arah kebijakan tersebut, perguruan tinggi diajak menginisiasi gerakan "Kampus Berdaya Menuju Masyarakat Mandiri".
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Gerakan tersebut dapat diwujudkan melalui pembentukan desa binaan, pendampingan pelaku UMKM, pendirian laboratorium kewirausahaan sosial, serta program pengabdian yang menerjunkan mahasiswa secara langsung untuk membantu mendongkrak produktivitas petani, nelayan, dan warga miskin.






