Bank Indonesia secara resmi merilis peringatan penting terkait dengan maraknya kasus penipuan yang memanfaatkan bukti pembayaran QRIS palsu. Informasi peringatan ini dipublikasikan oleh bank sentral melalui akun Instagram resminya, @bank_indonesia, pada hari Minggu, tanggal 13 Juli 2025. Imbauan ini dikeluarkan sebagai respons atas meningkatnya laporan kejahatan dengan modus manipulasi bukti transaksi yang menyasar para pelaku usaha, khususnya sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah atau UMKM. Pengumuman dari bank sentral ini menjadi pengingat krusial bagi seluruh pelaku industri kreatif dan perdagangan di tanah air.
Saat ini, Quick Response Code Indonesian Standard atau yang lebih populer dikenal dengan singkatan QRIS telah menjadi pilihan transaksi pembayaran nontunai yang sangat diminati oleh masyarakat luas. Kemudahan proses pindai dan bayar membuat QRIS diadopsi secara masif dari pedagang kaki lima hingga pusat perbelanjaan besar. Namun, popularitas yang tinggi ini juga dimanfaatkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan aksi penipuan dengan memalsukan bukti transfer. Bank Indonesia menegaskan bahwa secara sistem, QRIS dijamin aman dari potensi peretasan langsung, sehingga celah keamanan yang terjadi umumnya berasal dari manipulasi psikologis dan kelengahan verifikasi manual.
Untuk membantu para pemilik usaha, merchant, dan masyarakat umum dalam menghindari kerugian akibat kejahatan digital ini, berikut adalah beberapa pertanyaan penting beserta penjelasannya mengenai keamanan transaksi QRIS.
Mengapa modus penipuan dengan bukti pembayaran QRIS palsu dapat terjadi di masyarakat?
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Modus penipuan dengan bukti pembayaran QRIS palsu kian marak karena pelaku memanfaatkan kelengahan kasir atau pemilik usaha yang tidak langsung memeriksa mutasi rekening. Pelaku biasanya menunjukkan gambar tangkapan layar ponsel yang sudah disunting sedemikian rupa agar terlihat seperti bukti transaksi yang sukses. Jika pemilik toko langsung percaya tanpa memverifikasi data yang masuk ke sistem mereka sendiri, maka pelaku dapat membawa pergi barang belanjaan tanpa melakukan pembayaran yang sah. Oleh karena itu, verifikasi secara mandiri melalui aplikasi merchant sangatlah penting.
Bagaimana langkah pencegahan yang harus diambil oleh pemilik usaha atau UMKM saat menerima pembayaran?
Bank Indonesia mengimbau para pemilik usaha dan pelaku UMKM untuk meningkatkan kewaspadaan saat menerima transaksi pembayaran dengan QRIS. Langkah utama yang harus dilakukan adalah selalu memperhatikan notifikasi atau pemberitahuan keberhasilan transaksi yang masuk ke perangkat atau aplikasi merchant milik usaha Anda sendiri, bukan hanya melihat layar ponsel milik pembeli. Selain itu, sebelum mengonfirmasi pembayaran dan menyerahkan barang belanjaan, pastikan untuk memeriksa nama penerima yang tertera pada aplikasi pembayaran maupun bukti bayar yang ditunjukkan oleh konsumen demi memastikan kesesuaian data merchant Anda.
Mengapa kode QRIS tidak bisa langsung diproses apabila dipindai menggunakan kamera ponsel biasa?
Kru KM Virgo Telepon Ibu Sebelum Kapal Terbalik di Laut Jawa

Bagi masyarakat umum, penting untuk mengetahui batasan teknis dari kode QR ini. Kode QRIS tidak akan dapat diproses apabila Anda memindainya langsung menggunakan aplikasi kamera bawaan ponsel. Hal ini terjadi karena kamera ponsel biasa hanya akan membaca kode tersebut sebagai teks atau tautan mentah tanpa bisa mengeksekusi perintah pembayaran. Proses pemindaian kode QRIS harus dilakukan melalui aplikasi pembayaran resmi, dompet digital, atau aplikasi perbankan yang memang memiliki fitur pemindai QRIS terintegrasi agar transaksi keuangan dapat berjalan dengan aman dan legal.
Bagaimana cara melindungi data pribadi agar terhindar dari pembobolan akun pembayaran digital?
Keamanan transaksi tidak hanya bergantung pada kehati-hatian saat menerima pembayaran, tetapi juga pada bagaimana cara kita menjaga kerahasiaan akses akun. Pemilik usaha maupun konsumen dilarang keras untuk membagikan data pribadi yang bersifat rahasia kepada siapa pun. Data sensitif seperti Personal Identification Number atau PIN, One-Time Password atau OTP, serta informasi login aplikasi pembayaran harus dijaga dengan ketat. Jangan pernah memberikan informasi tersebut kepada pihak lain yang mengaku sebagai petugas layanan pelanggan atau pihak bank, karena kebocoran data ini dapat memicu pengambilalihan akun secara ilegal.






