Pemerintah Amerika Serikat menggulirkan kampanye ekonomi terpadu yang diistilahkan sebagai economic D-Day guna memutus akses Iran dari sistem keuangan dan perdagangan global. Langkah agresif ini menempatkan sejumlah mitra dagang utama Teheran ke dalam pengawasan ketat, sementara nama Indonesia turut terseret dalam skema pengiriman komoditas energi.
Dalam rantai pasok global Iran, terdapat enam negara yang menjadi fokus utama tekanan Washington karena mencatatkan nilai transaksi strategis dan pertukaran energi bernilai miliaran dolar.
Peran Enam Negara dalam Pusaran Dagang Iran
Negara pertama adalah China, yang menyerap sekitar 90% ekspor minyak Iran. Berdasarkan data perdagangan 2025, transaksi bilateral kedua negara tercatat sekitar US$9,96 miliar atau Rp175,3 triliun. Temuan U.S.-China Economic and Security Review Commission menyebutkan bahwa nominal tersebut belum mencakup dugaan ekspor minyak mentah tak tercatat senilai US$31,2 miliar pada periode yang sama.
Negara kedua adalah Uni Emirat Arab (UEA). Nilai perdagangan bilateral UEA-Iran menyentuh US$28 miliar pada 2024. Saat itu, UEA menjadi sumber impor terbesar Iran dengan kontribusi melampaui 30%, sekaligus tujuan ekspor terbesar ketiga yang menyerap sekitar 12% pengiriman bernilai lebih dari US$7 miliar. Namun, UEA bergerak menangguhkan transaksi komersial dan finansial menyusul serangan dua rudal balistik ke wilayahnya.
Intip ke dalam 'Kos-kosan Barang' di DKI, Sewa Rp320.000-Tembus 7 Juta

Irak menempati posisi krusial ketiga akibat ketergantungan energi. Perdagangan kedua pihak melampaui US$10 miliar pada 2025. Data U.S. Energy Information Administration (EIA) mencatat pasokan listrik dari Teheran menyumbang lebih dari 30% pembangkitan listrik Irak pada 2023. Irak juga memperbarui kontrak pasokan gas berdurasi lima tahun pada Maret 2024 dengan volume mencapai hampir 660 miliar kaki kubik per tahun.
Mitra dagang lainnya meliputi Turki dengan nilai perdagangan bilateral sebesar US$5,7 miliar pada 2024 menurut Kementerian Luar Negeri Turki. Di Asia Selatan, perdagangan India-Iran tercatat sebesar US$1,6 miliar pada periode yang berakhir Maret 2026, turun dari US$2,3 miliar pada 2023. India kembali mengimpor minyak mentah Iran pada April 2026 setelah terhenti tujuh tahun menyusul pelonggaran sanksi sementara oleh Washington.
Sementara itu, Mesir masuk dalam radar penegakan sanksi Departemen Keuangan AS, yang menargetkan institusi perbankan Banque Misr atas transaksi dengan Teheran. Otoritas AS mengusulkan pembatasan operasional cabang bank tersebut di UEA dari transaksi berbasis dolar AS.
Sugiono Ungkap Pentingnya Kehadiran Indonesia di KTT BRICS ke-18 India

Posisi Indonesia dalam Distribusi Minyak
Indonesia bukan bagian dari enam mitra dagang langsung yang menjadi target sanksi institusional utama, namun nama Indonesia dan Malaysia disebut dalam mekanisme distribusi komoditas energi.
Laporan pemantau energi Kpler mengungkapkan bahwa minyak mentah asal Iran kerap berganti label dokumen asal barang menjadi minyak dari Indonesia atau Malaysia sebelum dikirim ke negara pembeli seperti China. Seluruh transaksi pengalihan logistik ini diselesaikan menggunakan perantara di luar sistem kliring dolar AS guna menghindari pelacakan sanksi ekonomi.






