Rencana pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Ungaran di Jawa Tengah memerlukan pembuktian riil di lapangan sebelum melangkah ke tahap konstruksi skala penuh. Kendati potensinya telah dipetakan dalam rencana kelistrikan nasional, kepastian daya dan kelayakan proyek tetap bergantung pada data hasil eksplorasi langsung.
Ahli panas bumi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Ali Ashat, menyampaikan bahwa kelanjutan eksplorasi PLTP Gunung Ungaran penting untuk mengukur manfaat nyata energi tersebut bagi ketahanan energi. Namun, kapasitas riil pembangkit serta tingkat kelayakan proyek belum dapat dipastikan hanya dari estimasi di atas kertas tanpa melalui kajian komprehensif dan pengeboran eksplorasi.
Dalam dokumen Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, potensi energi panas bumi di kawasan Gunung Ungaran tercatat berada pada kisaran 55 megawatt (MW). Ali menegaskan bahwa angka proyeksi sekitar 55 MW tersebut masih wajib dibuktikan lewat aktivitas pengeboran. Apabila potensi itu terkonfirmasi secara teknis, keberadaan PLTP Gunung Ungaran dapat memperkuat stabilitas dan keandalan pasokan listrik, terutama di wilayah Jawa Tengah.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Energi panas bumi memiliki keunggulan operasional karena dapat memasok listrik secara stabil selama 24 jam penuh tanpa dipengaruhi fluktuasi cuaca. Karakteristik ini menempatkan panas bumi sebagai penyedia beban dasar (baseload) yang dapat melengkapi sumber energi terbarukan lain yang bersifat intermiten, seperti tenaga surya dan bayu. Selain itu, panas bumi merupakan sumber daya domestik murni yang tidak membutuhkan bahan bakar impor, sehingga pemanfaatannya mampu menekan ketergantungan pada energi fosil sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional.
Dari perspektif lingkungan, operasional pembangkit panas bumi menghasilkan emisi gas rumah kaca yang jauh lebih rendah dibandingkan pembangkit listrik berbahan bakar fosil. Kendati demikian, dampak lingkungan di tingkat tapak tetap memerlukan pengelolaan terukur, dengan efektivitas mitigasi yang disesuaikan secara ketat terhadap karakteristik alam Gunung Ungaran.
Kru KM Virgo Telepon Ibu Sebelum Kapal Terbalik di Laut Jawa

Keberadaan area pertanian, kawasan wisata, serta situs cagar budaya Candi Gedong Songo di sekitar lokasi dinilai tidak harus berbenturan dengan aktivitas pengembangan energi. Menurut Ali, kegiatan energi dan roda ekonomi lokal berpotensi berjalan beriringan asalkan ditopang tata ruang yang tepat dan perlindungan kawasan yang memadai.
Seluruh keputusan terkait kelanjutan pengembangan PLTP Gunung Ungaran ke depan harus berpijak pada evaluasi menyeluruh yang mencakup kelayakan teknis, analisis keekonomian, perlindungan cagar budaya dan lingkungan hidup, faktor keselamatan, serta tingkat penerimaan masyarakat setempat.






