Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) resmi menjalin kemitraan strategis dengan salah satu produsen protein terbesar di dunia, JBS Group. Kerja sama investasi skala besar ini dirancang untuk mengembangkan sektor dan bisnis protein di Tanah Air secara berkelanjutan.
Langkah ekspansi tersebut hadir di tengah dorongan pemenuhan kebutuhan pangan berkualitas bagi masyarakat. Melalui kolaborasi ini, Danantara dan JBS Group menggabungkan kapasitas pendanaan dan keahlian industri guna membangun rantai pasok protein hewani yang kuat di pasar domestik.
Mengapa Sektor Protein Jadi Fokus Utama Investasi Danantara?
Keputusan Danantara menanamkan modal di sektor protein didorong oleh sejumlah pertimbangan strategis, terutama kesenjangan tingkat konsumsi serta potensi pertumbuhan pasar yang sangat besar. Saat ini, tingkat konsumsi protein masyarakat Indonesia tercatat masih berada sekitar 40% di bawah rata-rata konsumsi protein di negara-negara yang sudah berkembang.
Di sisi lain, basis pasar konsumen sangat masif dan terus bertumbuh. Populasi penduduk Indonesia saat ini telah mencapai sekitar 280 juta jiwa, sementara populasi di kawasan Asia Tenggara secara keseluruhan sudah hampir mencapai 800 juta jiwa. Potensi demografi ini membuka ruang pertumbuhan yang luas bagi industri penyedia pangan bernutrisi.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Selain faktor demografi dan tingkat konsumsi gizi, adanya target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8% turut menjadi landasan utama proyeksi bisnis ini. Pahala Nugraha Mansury menilai bahwa kombinasi antara target pertumbuhan ekonomi 8%, pertambahan jumlah penduduk, dan peningkatan konsumsi protein per kapita akan mendorong lonjakan permintaan terhadap bahan makanan, khususnya produk-produk sumber protein.
Berapa Nilai Investasi dan Bagaimana Skema Pengembangannya?
Kemitraan antara BPI Danantara dan JBS Group melibatkan komitmen modal berskala internasional. Dalam kesepakatan ini, Danantara dan JBS Group masing-masing akan menggelontorkan dana investasi sebesar US$ 2,5 miliar. Dengan pembagian modal yang setara tersebut, total dana yang berhasil dihimpun mencapai US$ 5 miliar.
Total dana himpunan sebesar US$ 5 miliar tersebut akan difokuskan secara terarah untuk pengembangan bisnis protein di Indonesia dalam kurun waktu dua tahun pertama. Alokasi modal pada tahap awal ini diarahkan untuk mempercepat pembangunan fasilitas, infrastruktur produksi, dan penguatan pasokan protein di dalam negeri.
Apa Saja Sumber Protein yang Disasar dalam Kerja Sama Ini?
Dalam rencana pengembangan bisnisnya, Danantara menyasar portofolio komoditas yang luas dan tidak terpaku pada satu komoditas tunggal. Fokus pengembangan diarahkan pada diversifikasi berbagai jenis sumber protein hewani yang menjadi konsumsi pokok masyarakat.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Komoditas yang menjadi target utama meliputi daging sapi, ikan, ayam, serta beragam sumber protein lainnya. Diversifikasi komoditas hewani ini ditujukan untuk merespons kebutuhan konsumsi harian masyarakat Indonesia yang beragam, sekaligus memperkuat ketersediaan pasokan pangan hewani secara menyeluruh.
Siapa JBS Group dan Apa Peran Strategisnya?
JBS Group merupakan pemain utama dalam industri pengolahan protein global. Perusahaan ini berasal dari Brasil dan telah mencatatkan sahamnya (listing) di pasar modal Amerika Serikat. Rekam jejak operasional JBS di berbagai negara menjadi nilai tambah penting dalam kemitraan investasi ini.
Di kawasan Pasifik, JBS tercatat memiliki keunggulan operasional yang dominan. Perusahaan ini mengoperasikan berbagai aset produksi di Australia dengan penguasaan pangsa pasar mencapai antara 45% sampai dengan 50%. Pengalaman internasional serta keandalan operasional JBS Group diharapkan dapat mendukung realisasi target Danantara dalam mengembangkan industri protein nasional yang berdaya saing tinggi.






