Peristiwa bencana alam di masa lalu sering kali menjadi cetak biru penting bagi kesiapsiagaan mitigasi bencana modern, terutama untuk melindungi infrastruktur dan roda ekonomi masyarakat pesisir. Salah satu peristiwa bersejarah yang kembali menjadi sorotan adalah gempa megathrust dan tsunami dahsyat di Laut Banda yang terjadi 397 tahun lalu sebelum artikel ini ditulis. Saat bencana tersebut terjadi, para nelayan yang sedang berada di laut lepas sama sekali tidak menyadari adanya tanda-tanda air laut yang tidak biasa. Namun, ketika mereka hendak menepi, pesisir Banda telah berubah menjadi lokasi bencana yang luluh lantak. Melalui pemodelan ilmiah dan catatan sejarah, para peneliti terus berupaya memetakan risiko di wilayah perairan timur Indonesia ini guna memperkuat mitigasi dan meminimalkan dampak kerusakan. Berikut adalah rangkuman informasi penting mengenai peristiwa bersejarah tersebut serta potensi risikonya saat ini.
Bagaimana kronologi bencana gempa dan tsunami Banda pada masa lampau?
Peristiwa luar biasa ini terjadi pada tanggal 1 Agustus 1629. Guncangan bersumber dari gempa bumi megathrust dengan kekuatan mencapai magnitudo 8,3 yang mengguncang kawasan Laut Banda. Gempa bumi besar ini kemudian memicu gelombang tsunami raksasa yang menyapu wilayah pesisir Banda dan menjadikannya salah satu bencana alam terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah Indonesia. Ketinggian gelombang tsunami yang menghantam daratan pesisir tercatat mencapai 15,3 meter, sebuah angka yang menunjukkan betapa masifnya energi yang dilepaskan oleh aktivitas tektonik pada masa itu.
Apa saja bukti sejarah yang mencatat kerusakan akibat kekuatan tsunami tersebut?
Intip ke dalam 'Kos-kosan Barang' di DKI, Sewa Rp320.000-Tembus 7 Juta

Dampak destruktif dari bencana ini didokumentasikan dengan jelas dalam catatan sejarah. Menurut catatan peneliti bernama Wichmann dalam studinya mengenai gempa bumi di Kepulauan Hindia yang terbit pada tahun 1901, gelombang tsunami bergerak cepat ke arah barat. Gelombang tersebut menerjang wilayah Banda Naira, menghantam Benteng Nassau, serta menyapu berbagai desa di pesisir pantai. Kerusakan yang ditimbulkan sangat parah karena rumah-rumah di pantai hancur, pepohonan tercerabut dari tanah, dan pemecah gelombang yang dibangun dari batu ikut luluh lantak. Dahsyatnya terjangan air bahkan mampu masuk ke dalam area benteng dan menyeret sebuah bongkahan besi seberat 1.558 kilogram sejauh 11,3 meter. Selain itu, getaran gempa utama dirasakan sangat kuat hingga ke wilayah Ambon, yang berjarak sekitar 230 kilometer dari pusat gempa, meskipun tidak ada catatan mengenai terjadinya tsunami di Ambon pada hari itu.
Bagaimana para ilmuwan menjelaskan penyebab gempa megathrust ini?
Minimnya catatan sejarah sempat membuat detail peristiwa ini sulit direkonstruksi. Namun berabad-abad kemudian, ilmuwan Zac Yung-Chun Liu dan Ron A. Harris berhasil menyusun kembali kemungkinan pemicu bencana tahun 1629 tersebut menggunakan simulasi komputer untuk gempa dan tsunami. Hasil rekonstruksi mereka menunjukkan bahwa gempa dipicu oleh tumbukan aktif antara Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia. Proses subduksi ini terjadi di zona subduksi Banda, tepatnya yang terletak di sebelah selatan Pulau Seram. Fakta bahwa tsunami tidak tercatat di Ambon serta arah datangnya gelombang membantu para peneliti mempersempit kemungkinan lokasi sumber gempa tersebut.
Berapa lama efek gempa susulan berlangsung pascabencana utama?
Sugiono Ungkap Pentingnya Kehadiran Indonesia di KTT BRICS ke-18 India

Berdasarkan perhitungan matematis dari para peneliti di Brigham Young University, aktivitas tektonik di kawasan tersebut tidak langsung mereda setelah gempa utama selesai. Gempa susulan diperkirakan terus berlangsung selama sembilan tahun berturut-turut setelah peristiwa tahun 1629. Ketidakstabilan struktur geologi di wilayah ini juga terbukti dengan terjadinya ancaman serupa yang berulang. Sekitar 50 tahun setelah peristiwa Banda, kawasan Ambon dihantam oleh tsunami besar yang sangat dahsyat dan merenggut korban jiwa sedikitnya 2.000 orang.
Bagaimana potensi bahaya tektonik di Laut Banda di masa kini untuk kewaspadaan ekonomi pesisir?
Secara geografis, Laut Banda memiliki karakteristik geologi yang sangat ekstrem, salah satunya ditandai dengan keberadaan Palung Weber yang memiliki kedalaman mencapai sekitar 7.400 meter. Letaknya yang berada di pertemuan Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia membuat aktivitas tektonik di wilayah tersebut berpotensi memicu gempa besar maupun tsunami. Berdasarkan simulasi aktivitas tektonik terbaru di Laut Banda, potensi ancaman tsunami masih tetap ada dan dapat memicu gelombang setinggi sekitar 7,7 meter. Dalam skenario simulasi tersebut, wilayah Pulau Seram bagian timur diproyeksikan menjadi area pertama yang akan terdampak. Kendati demikian, secanggih apa pun teknologi saat ini, gempa yang berpotensi memicu tsunami masih belum dapat diprediksi secara pasti. Oleh karena itu, cara terbaik untuk menghadapi ancaman ini adalah dengan memperkuat mitigasi dan meningkatkan kewaspadaan agar dampak bencana terhadap masyarakat dan roda ekonomi dapat diminimalkan.






