Penyelidikan kepolisian atas kasus penyalahgunaan narkotika yang menjerat aktor Revaldo Fifaldi mengungkap pola relaps yang dipicu oleh lingkaran pergaulan pascarehabilitasi. Fakta ini menjadi sorotan publik mengenai rentannya pemulihan mantan pengguna saat kembali berinteraksi dengan jejaring peredaran narkoba di luar fasilitas pemulihan.
Kapolres Metro Jakarta Barat Kombes Nasriadi membeberkan bahwa awal mula perkenalan Revaldo dengan seorang pengedar berinisial HS berakar dari lingkungan pusat rehabilitasi. Keterkaitan tersebut bermula saat istri dari HS tengah menjalani masa rehabilitasi di fasilitas yang sama dengan Revaldo.
Pertemuan Lewat Kunjungan hingga Peluncuran Film
Jalur komunikasi pertama kali terbuka bukan secara langsung antara Revaldo dan HS, melainkan melalui adik ipar HS yang juga berprofesi sebagai figur publik di dunia hiburan. Saat itu, adik ipar HS datang menjenguk kakaknya yang dirawat di panti rehabilitasi.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Setelah Revaldo dan istri HS menyelesaikan masa rehabilitasi masing-masing, relasi antarpribadi tersebut berlanjut ke ranah profesional dan sosial. Revaldo dan HS bertemu kembali dalam sebuah acara pemutaran perdana film debut adik ipar HS. Dari pertemuan sosial tersebut, intensitas komunikasi antara keduanya meningkat pesat.
Modus Pemberian Cuma-cuma hingga Transaksi
Komunikasi intensif tersebut berujung pada kesepakatan untuk mengonsumsi narkotika bersama di sebuah apartemen milik HS. Berdasarkan hasil pemeriksaan kepolisian, HS pada awalnya memberikan narkotika kepada Revaldo secara cuma-cuma sebanyak tiga kali.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Setelah jerat ketergantungan kembali terbentuk, pola interaksi bergeser menjadi transaksi jual beli. Pihak kepolisian mengonfirmasi adanya satu kali transaksi pembelian yang terdata, di mana Revaldo membeli narkotika jenis sabu seberat setengah gram dari HS dengan nominal Rp 650.000.
Kombes Nasriadi menegaskan bahwa Revaldo sebenarnya telah menyelesaikan proses rehabilitasi dan berada dalam fase pemulihan. Namun, tekanan pergaulan dan kontak kembali dengan lingkaran peredaran membuatnya terjebak kembali menjadi pemakai.






