Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membeberkan dinamika dan faktor pemicu di balik rangkaian letusan Gunung Anak Krakatau yang terjadi secara berulang. Aktivitas vulkanik di gunung api tersebut dilaporkan mulai aktif sejak Juli 2026, dengan puncak aktivitas tertinggi tercatat pada 5 September 2026.
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, menyampaikan bahwa aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini mengalami peningkatan dibandingkan periode sebelumnya. Peningkatan tersebut ditandai dengan erupsi yang terjadi secara berulang dan berlangsung terus-menerus. Kondisi tersebut menunjukkan adanya suplai magma dan gas yang masih berlangsung di dalam tubuh gunung api.
Dinamika Kegempaan dan Pelepasan Fluida
Menurut Lana Saria, aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau masih berpotensi berfluktuasi dan meningkat. Hal ini disebabkan oleh masih terekamnya berbagai jenis kegempaan, meliputi gempa frekuensi rendah, gempa hibrid, gempa harmonik, hingga tremor secara berkelanjutan.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Kemunculan jenis-jenis gempa tersebut mencerminkan adanya proses pergerakan atau pelepasan fluida vulkanik di dalam sistem tubuh gunung api. Meski demikian, Lana menegaskan bahwa waktu, besaran, serta bentuk erupsi berikutnya tidak dapat dipastikan secara tepat melalui pemodelan apa pun.
Evaluasi Pemantauan dan Potensi Bahaya
Badan Geologi menegaskan bahwa frekuensi erupsi yang sering tidak otomatis menjadi indikasi bahwa erupsi yang lebih besar pasti akan terjadi. Dalam menentukan tingkat aktivitas dan langkah mitigasi, Badan Geologi terus mengevaluasi perkembangan situasi berdasarkan integrasi seluruh data pemantauan, bukan hanya berpijak pada jumlah letusan atau tinggi kolom erupsi semata.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Sejumlah potensi bahaya utama saat ini patut diwaspadai oleh masyarakat dan pihak terkait. Bahaya tersebut meliputi lontaran material pijar, batuan vulkanik, sebaran abu vulkanik, gas vulkanik dengan konsentrasi tinggi, hingga kemungkinan aliran material erupsi di sekitar area kawah dan tubuh Gunung Anak Krakatau.
Lontaran material pijar dan batuan vulkanik berpotensi merusak peralatan pemantauan yang terpasang di dekat pusat aktivitas. Selain itu, lontaran material tersebut sangat membahayakan keselamatan siapa pun yang nekat memasuki zona terlarang di sekitar Gunung Anak Krakatau.






