Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengonfirmasi bahwa fenomena suara dentuman dan getaran yang dirasakan masyarakat di sebagian wilayah Jawa Barat berkaitan langsung dengan erupsi Gunung Anak Krakatau. Peristiwa dentuman serta getaran pada kaca dan pintu tersebut dilaporkan terjadi pada tanggal 4 sampai 5 September 2026.
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, menjelaskan bahwa kesimpulan tersebut didasarkan pada kesesuaian waktu terjadinya erupsi Gunung Anak Krakatau serta rekaman sinyal pada stasiun pemantauan di Jawa Barat. Data-data tersebut mendukung kuat bahwa fenomena yang dirasakan warga bersumber dari gelombang akustik akibat letusan gunung api tersebut.
Perambatan Gelombang Akustik Erupsi
Gelombang akustik berfrekuensi rendah yang dihasilkan dari letusan gunung api dapat merambat melintasi jarak yang jauh dalam kondisi atmosfer tertentu. Gelombang suara inilah yang kemudian sampai ke wilayah pemukiman dan dirasakan oleh masyarakat sebagai suara dentuman maupun getaran fisik pada pintu dan jendela kaca.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Perambatan gelombang suara erupsi berjarak jauh ini memiliki preseden pada sejumlah letusan gunung api lain di Indonesia. Sebagai contoh, letusan Gunung Kelud tercatat pernah terdengar hingga ke wilayah Jawa Tengah. Begitu pula saat Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur mengalami erupsi, suara letusannya dilaporkan terdengar hingga Maumere dan Pulau Alor.
Sebaran Abu Vulkanik dan Imbauan Badan Geologi
Selain memicu gelombang suara dan getaran, erupsi Gunung Anak Krakatau terpantau melepaskan abu vulkanik yang menyebar di atmosfer. Sebaran abu vulkanik tersebut bergerak menuju kawasan Banten, sebagian Jawa Barat, DKI Jakarta, Lampung, hingga Bengkulu.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Pantauan pergerakan abu vulkanik ini diperoleh dari integrasi informasi erupsi serta Volcano Observatory Notice for Aviation (VONA) Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melalui platform Magma Indonesia, informasi dari Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC) Darwin, serta analisis citra satelit Himawari-9 milik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Menanggapi sebaran abu vulkanik dan dinamika erupsi tersebut, Badan Geologi mengimbau masyarakat untuk tidak beraktivitas di luar ruangan serta selalu memantau perkembangan situasi melalui sumber informasi resmi dari pemerintah.






