Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merespons pertimbangan Presiden Prabowo Subianto terkait wacana penggabungan lembaganya dengan Badan Geologi. Penggabungan kedua instansi tersebut diwacanakan sebagai langkah untuk memantau potensi ancaman bencana di Indonesia secara lebih optimal.
BMKG menyatakan siap mengikuti dan menjalankan arahan Presiden Prabowo Subianto jika kebijakan integrasi tersebut diberlakukan. Langkah ini dinilai penting demi meningkatkan efektivitas pelayanan publik serta mendukung upaya mitigasi ancaman bencana di seluruh tanah air.
Kesiapan dan Kolaborasi Sistem Mitigasi BMKG
Sekretaris Utama (Sestama) BMKG Guswanto menyampaikan kesiapan tersebut saat ditemui di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, pada Selasa (8/9/2026). Guswanto menegaskan bahwa BMKG dan Badan Geologi selama ini telah menjadi mitra strategis yang memiliki kesamaan misi, khususnya dalam memastikan keselamatan masyarakat.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Menurut Guswanto, kedua lembaga memiliki peran yang saling melengkapi dalam rantai pertukaran informasi mengenai risiko ancaman bencana geofisika dan bencana kebumian.
Di samping menanggapi wacana integrasi, Guswanto memaparkan fokus BMKG dalam memperkuat sistem peringatan dini melalui peningkatan keandalan alat operasional utama. Untuk menjaga fungsi perangkat, BMKG menerapkan strategi pemeliharaan bergilir (shifting) dari tahun ke tahun guna memastikan pemberian layanan publik tetap berjalan penuh selama 24 jam dalam 7 hari. Selain pemeliharaan alat, BMKG juga membutuhkan dukungan anggaran untuk melaksanakan edukasi publik terkait kebencanaan.
Wacana Integrasi dalam Rapat Terbatas Presiden
Wacana integrasi kelembagaan ini sebelumnya diutarakan oleh Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas penanganan bencana yang digelar secara hibrida di Istana Merdeka, Jakarta, pada Senin (7/9). Agenda tersebut dihadiri langsung oleh Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani, Kepala Badan Geologi Lana Saria, serta jajaran menteri kabinet.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Dalam rapat itu, Presiden menyoroti letak geografis Indonesia yang berada di jalur cincin api (ring of fire), yang memicu terjadinya erupsi gunung api di berbagai daerah, seperti Sumatera Utara, Jawa Timur, dan Halmahera. Fenomena tersebut menuntut pemantauan yang berkelanjutan dari lembaga terkait.
Kendati gagasan penggabungan telah disampaikan di hadapan pimpinan kedua lembaga, Presiden Prabowo menegaskan bahwa keputusan mengintegrasikan Badan Geologi bersama BMKG masih belum final dan akan dibahas lebih lanjut di tingkat pemerintah.






