Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat rentetan gempa susulan di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) telah menembus 9.765 kejadian pascagempa utama. Dari ribuan aktivitas seismik yang terdata, gempa susulan terbesar tercatat berkekuatan magnitudo (M) 6,2.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan (Kapusdatin) BNPB Berton SP Panjaitan menyampaikan pembaruan data tersebut berdasarkan laporan resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam konferensi pers di kanal YouTube BNPB, Minggu (30/8/2026).
Berdasarkan catatan BMKG, kekuatan gempa susulan yang terjadi berada pada rentang magnitudo 1 untuk yang terkecil hingga M 6,2 sebagai yang paling kuat. Kendati instrumen mencatat hampir sepuluh ribu kali aktivitas seismik, hanya sebagian getaran yang memiliki dampak guncangan nyata ke permukaan.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Dari total 9.765 aktivitas gempa susulan tersebut, sebanyak 155 kali getaran dilaporkan dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat di wilayah terdampak.
Berton menjelaskan bahwa fenomena gempa susulan ini merupakan pelepasan energi lanjutan yang masih berpotensi berlangsung dalam kurun waktu 3 hingga 4 pekan terhitung sejak gempa pertama terjadi di NTT.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Mengenai dampak korban jiwa, BNPB mencatat total 111 orang meninggal dunia akibat bencana gempa tersebut. Dalam beberapa hari terakhir hingga pembaruan data terkini diumumkan, BNPB tidak menerima laporan mengenai adanya tambahan korban meninggal dunia baru di lapangan.






