Pejabat tinggi Iran Mohsen Rezaei menegaskan bahwa penghentian seluruh perang dan operasi militer di Timur Tengah menjadi syarat mutlak bagi Amerika Serikat jika ingin Selat Hormuz dibuka kembali secara normal. Teheran menyatakan setiap kesepakatan maritim baru dengan Washington wajib mencakup gencatan senjata permanen di Gaza, Lebanon, dan Suriah.
Saat ini, otoritas Iran hanya membuka koridor transit sementara dengan kapasitas yang sangat terbatas. Pembatasan ketat tersebut memukul drastis arus logistik global di jalur minyak utama dunia. Berdasarkan data Kpler, volume lalu lintas laut merosot tajam menjadi hanya lima kapal yang melintas pada Selasa, anjlok dari rata-rata 130 kapal per hari sebelum perang meletus pada Februari.
Intip ke dalam 'Kos-kosan Barang' di DKI, Sewa Rp320.000-Tembus 7 Juta

Sebagai langkah antisipasi risiko maritim, Iran dan Oman telah membahas proposal pembentukan jalur pelayaran bersama sementara serta menyepakati misi pembersihan ranjau laut guna mengamankan rute ekspor minyak mentah. Meski demikian, penyelesaian sengketa utama dengan pihak Barat masih menemui jalan buntu. Presiden AS Donald Trump dilaporkan tidak lagi berminat pada kerangka kesepakatan damai Juni yang sebelumnya sempat meredakan bentrokan militer kedua pihak.
Sugiono Ungkap Pentingnya Kehadiran Indonesia di KTT BRICS ke-18 India

Hubungan kedua negara semakin menegang setelah Washington mengumumkan kampanye "economic D-Day" untuk menekan Teheran melalui ancaman sanksi terhadap negara-negara yang berbisnis dengan Iran. Dari sisi keamanan rute pelayaran, Komandan US Central Command (CENTCOM) Laksamana Brad Cooper menyebut militer AS telah membantu memfasilitasi perlintasan sekitar 1.500 kapal komersial serta pergerakan 750 juta barel minyak mentah selama beberapa bulan terakhir di tengah situasi konflik yang berlangsung.






