Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan signifikan pada awal sesi 2 perdagangan Senin (14/9/2026). Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) per pukul 14.14 WIB, IHSG anjlok 2,02% atau terpangkas 132,05 poin ke level 6.409,33.
Pada perdagangan hari ini, IHSG sempat dibuka menguat hingga menyentuh level tertinggi di 6.543,28. Namun, gelombang tekanan jual terus membayangi pergerakan indeks hingga sempat menyentuh level terendah harian di 6.409,18.
Pelemahan bursa berlangsung merata di lantai bursa. Tercatat sebanyak 544 saham terkoreksi, sementara hanya 157 saham yang berhasil menguat dan 262 saham bergerak stagnan. Aktivitas transaksi membukukan volume sekitar 20,28 miliar lembar saham dengan total nilai perdagangan menyentuh kisaran Rp9,479 triliun lewat 1,387 juta kali transaksi. Nilai kapitalisasi pasar BEI tercatat berada di level sekitar Rp11.196 triliun.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Tekanan Aksi Jual Asing dan Sentimen Geopolitik
Penurunan tajam IHSG beriringan dengan maraknya aksi jual bersih (net foreign sell) oleh investor asing. Pada sesi I saja, dana asing yang keluar dari seluruh pasar mencapai Rp664,34 miliar.
Tekanan jual asing paling besar terkonsentrasi pada saham PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) dengan nilai pelepasan Rp164,81 miliar. Saham perbankan pelat merah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) turut dilepas asing sebesar Rp127,90 miliar, diikuti oleh PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) dengan nilai jual bersih Rp124,55 miliar.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Sentimen negatif pasar modal turut dipicu oleh peningkatan eskalasi geopolitik di Timur Tengah yang kembali mengancam pasokan energi dunia. Serangan Houthi terhadap Arab Saudi serta gangguan jalur pelayaran di kawasan Teluk memicu kekhawatiran distribusi minyak mentah.
Risiko pasokan kian diperberat oleh kerusakan infrastruktur pipa minyak Arab Saudi, yang selama ini menjadi rute alternatif pengiriman minyak tanpa melewati Selat Hormuz. Situasi ini mengemuka setelah harga minyak global menembus level US$100 per barel pada pekan lalu. Lonjakan harga energi tersebut memicu kekhawatiran atas kenaikan inflasi global dan potensi menyempitnya ruang bagi bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter.






