Pertemuan Tingkat Tinggi (KTT) BRICS yang berlangsung di New Delhi, India, menghasilkan kesepakatan penting terkait situasi geopolitik dan keamanan global. Pada hari pertama KTT yang digelar selama dua hari tersebut, para pemimpin negara anggota secara bulat menyepakati dokumen Deklarasi New Delhi pada Sabtu (12/9/2026).
Melalui deklarasi tersebut, kelompok BRICS menyerukan peningkatan upaya internasional untuk mencegah dan menyelesaikan berbagai krisis global secara damai, terutama di tengah eskalasi konflik di Iran serta perang di Ukraina. Blok ini menekankan bahwa stabilitas dunia membutuhkan pendekatan berbasis dialog politik dan diplomasi.
Sikap terhadap Situasi di Gaza, Yerusalem, dan Lebanon
Dalam Deklarasi New Delhi, para pemimpin BRICS menyoroti krisis kemanusiaan di Timur Tengah, termasuk secara tegas menolak pemindahan paksa warga Palestina dari Jalur Gaza. Para anggota menyampaikan keprihatinan mendalam atas kekerasan yang terus terjadi di wilayah Gaza, meskipun kesepakatan gencatan senjata telah diberlakukan sejak Oktober 2025.
Deklarasi bersama itu turut memperingatkan segala bentuk kesepakatan yang berpotensi mengurangi hak-hak rakyat Palestina atau melegitimasi dan memperpanjang pendudukan. BRICS menegaskan bahwa penyelesaian konflik Israel-Palestina yang adil dan berkelanjutan hanya dapat dicapai melalui jalan damai serta pemenuhan hak sah rakyat Palestina, termasuk hak menentukan nasib sendiri dan hak untuk kembali.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Selain persoalan Gaza, BRICS menolak langkah-langkah sepihak yang berupaya mengubah status hukum maupun sejarah Yerusalem yang diduduki. Para pemimpin meminta penghormatan penuh terhadap kesucian seluruh situs keagamaan dan tempat suci di Yerusalem, serta menjamin hak masyarakat untuk beribadah tanpa hambatan.
Situasi di Lebanon juga menjadi perhatian dalam pertemuan tersebut. BRICS mengecam keras serangan yang menargetkan personel dan fasilitas Pasukan Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNIFIL), serta menegaskan tindakan tersebut sebagai bentuk pelanggaran nyata terhadap hukum internasional.
Dorongan Diplomasi dan Perlindungan Keamanan Nuklir
Menghadapi berbagai ancaman keamanan, para pemimpin anggota BRICS meminta komunitas internasional untuk mengedepankan jalur politik-diplomatik guna meredam potensi benturan lebih luas. Blok ini juga mendorong keterlibatan aktif organisasi-organisasi regional dalam memfasilitasi pencegahan dan resolusi krisis.
Kru KM Virgo Telepon Ibu Sebelum Kapal Terbalik di Laut Jawa

Deklarasi New Delhi turut menggarisbawahi kekhawatiran atas meningkatnya risiko konflik nuklir di tingkat global. BRICS mendorong penguatan langkah-langkah pengendalian senjata, perlucutan senjata, dan nonproliferasi nuklir secara menyeluruh.
Di samping itu, BRICS menyatakan keprihatinan mendalam terhadap serangan yang sengaja diarahkan ke infrastruktur sipil maupun fasilitas nuklir untuk tujuan damai. Para pemimpin menegaskan bahwa standar keselamatan, pengamanan, dan keamanan instalasi nuklir wajib dijaga setiap saat, termasuk di tengah situasi konflik bersenjata, demi melindungi keselamatan manusia dan kelestarian lingkungan.






