Upaya penyehatan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor kesehatan mulai membuahkan hasil nyata bagi neraca keuangan emiten pelat merah. PT Kimia Farma Tbk kini berhasil kembali mencatatkan profitabilitas setelah melewati rangkaian restrukturisasi utang dan suntikan ekuitas yang dipimpin langsung oleh Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara.
Chief Operating Officer (COO) BPI Danantara, Dony Oskaria, membeberkan bahwa sebelum transformasi digulirkan, BUMN farmasi terjebak dalam sejumlah persoalan struktural berat. Masalah utama bersumber dari ekspansi pabrik yang berlebihan tanpa kalkulasi return on investment (ROI) yang cermat. Fasilitas pabrik berukuran besar dibangun dengan tingkat utilisasi yang hanya mencapai 40 persen, sementara biaya pembiayaan utang serta beban depresiasi terus menekan laba perusahaan.
Keterbatasan likuiditas akibat beban finansial tersebut sempat memaksa Kimia Farma memangkas lini produksinya secara signifikan hingga hanya memproduksi 99 produk terkait farmasi.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Sengkarut Data dan Pembenahan Kimia Farma Apotek
Tantangan tidak hanya berada di tingkat induk, melainkan juga merembet ke anak usahanya, PT Kimia Farma Apotek, yang mengoperasikan lebih dari 1.000 jaringan apotek. Entitas ritel ini sebelumnya sempat menghimpun investasi senilai Rp 1,5 triliun dari Indonesia Investment Authority (INA) bersama mitra strategis asal China.
Kendati demikian, proses kemitraan tersebut terganjal setelah data inventaris yang disajikan Kimia Farma Apotek terbukti tidak valid dan palsu. Hal tersebut memicu komplain dari pihak investor, yang berujung pada kewajiban Kimia Farma untuk mengembalikan dana investasi disertai denda dan biaya tambahan lainnya.
Guna menyelesaikan persoalan tata kelola tersebut, Danantara mengambil langkah tegas dengan merombak jajaran manajemen serta membenahi total sistem teknologi informasi di tubuh Kimia Farma Apotek. Di level holding, Danantara menyalurkan suntikan modal (equity injection) sekaligus merestrukturisasi tumpukan utang agar operasional kembali stabil.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Evaluasi Indofarma dan Parameter Likuidasi
Langkah penanganan berbeda diterapkan pada emiten farmasi BUMN lainnya, yakni Indofarma. Berdasarkan evaluasi Danantara, skala bisnis, kapasitas produksi, ketersediaan produk unggulan, serta posisi aset dan liabilitas Indofarma dinilai sudah tidak lagi cukup kuat untuk menopang keberlangsungan usaha secara mandiri.
Menghadapi disparitas kondisi antarperusahaan pelat merah, Danantara menyusun parameter khusus untuk mengevaluasi kelayakan bisnis masing-masing BUMN. Indikator ini menjadi acuan formal dalam menentukan entitas mana yang masih memiliki prospek untuk diselamatkan melalui transformasi dan entitas mana yang harus diarahkan ke proses likuidasi.






