tartilybanjary.id
BerandaEkonomi & BisnisEkonomi DigitalEkonomiNasionalHukumBeritaAfiliasiEkonomi KreatorAplikasiWaspada PenipuanBPJS KESEHATANBANTUAN SOSIALPopuler
Beranda/Ekonomi Global

Bumi di Ujung Tanduk, Warga Dunia Mulai Tak Subur-Ekonomi Terancam

Fitri LimbongDiterbitkan 29 Agu 2026 - 00.21 路 1 Dibaca
Bagikan WhatsAppX
Bumi di Ujung Tanduk, Warga Dunia Mulai Tak Subur-Ekonomi Terancam
Foto/Ilustrasi: CNBC Indonesia
A-A+

Ekonom Jesus Fernandez-Villaverde dari University of Pennsylvania bersama peneliti Patrick Norrick dari Northwestern University menerbitkan riset bertajuk Terra Incognita: The Economics of a Shrinking World. Studi ini memperingatkan bahwa tingkat kesuburan global untuk pertama kalinya dalam sejarah manusia diperkirakan telah merosot di bawah tingkat penggantian (replacement rate), memicu ancaman perlambatan ekonomi jangka panjang.

Berdasarkan kalkulasi kedua akademisi tersebut, ambang batas penggantian populasi global berada di angka sekitar 2,2 anak per wanita. Saat ini, tingkat kesuburan dunia diperkirakan tidak lebih tinggi dari 2,19. Mulai tahun 2026, populasi bumi diproyeksikan mencatatkan jumlah kelahiran yang lebih sedikit daripada angka yang dibutuhkan untuk mempertahankan stabilitas jumlah penduduk dalam jangka panjang.

Tren Penurunan Kelahiran Lintas Negara

Penelitian ini meneliti data demografi dari 236 negara dan wilayah sepanjang periode 1950 hingga 2023. Dari data tersebut, sebanyak 219 negara dan wilayah mengalami penurunan tingkat kesuburan secara signifikan. Secara rata-rata, dunia kehilangan sekitar 0,062 kelahiran per wanita setiap tahunnya.

Baca Juga

Intip ke dalam 'Kos-kosan Barang' di DKI, Sewa Rp320.000-Tembus 7 Juta

Intip ke dalam 'Kos-kosan Barang' di DKI, Sewa Rp320.000-Tembus 7 Juta

Penurunan angka kesuburan tidak hanya dialami negara maju, tetapi juga meluas ke negara berkembang. Proyeksi untuk tahun 2025 menunjukkan angka kelahiran total yang sangat rendah di berbagai wilayah, antara lain:

  • Thailand: 0,87
  • Kolombia: 1,01
  • Iran: 1,35
  • Brasil: 1,52

Kombinasi sejumlah faktor menjadi pendorong utama tren ini. Biaya perumahan dan perawatan anak yang terus meningkat, ketidakamanan kondisi ekonomi, akses terhadap kontrasepsi, serta pergeseran norma sosial dinilai menjadi alasan di balik keputusan banyak orang untuk menunda atau membatasi keturunan.

Baca Juga

Sugiono Ungkap Pentingnya Kehadiran Indonesia di KTT BRICS ke-18 India

Sugiono Ungkap Pentingnya Kehadiran Indonesia di KTT BRICS ke-18 India

Dampak Terhadap Tenaga Kerja dan PDB

Peneliti memproyeksikan populasi bumi akan mencapai puncaknya di kisaran 9 miliar jiwa pada tahun 2056 sebelum akhirnya bergerak turun. Tingkat kesuburan yang rendah secara berkepanjangan ini dikhawatirkan menyusutkan ketersediaan tenaga kerja produktif, mempercepat penuaan demografi, dan membebani sistem jaminan sosial serta ekonomi negara.

Sebagai gambaran dampak makroekonomi, studi ini mencontohkan kondisi di Amerika Serikat. Jika pertumbuhan produktivitas tahunan di AS mencapai 2% namun dibarengi kontraksi angkatan kerja sebesar 0,5%, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) jangka panjang diperkirakan bakal terpangkas menjadi hanya sekitar 1,5%.

Sumber: CNBC Indonesia

Ikuti tartilybanjary.id

Tambahkan ke sumber pilihan di Google

Topik Terkait

Pertumbuhan Ekonomi

Berita Terbaru Lainnya

IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah SaksiBisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum KoalisiSerda Ahmad Tewas Dianiaya, Anggota DPR, Kekerasan di TNI Harus DihilangkanAsing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSGKru KM Virgo Telepon Ibu Sebelum Kapal Terbalik di Laut JawaNestapa Sopir Travel Dibunuh OPM Usai Dipaksa Dukung Papua MerdekaPecah Rekor Sitaan Duit saat KPK OTT Perkara Tanah Capai Rp 106,3 Miliar

Paling Banyak Dibaca

Kebijakan Baru TikTok Creator Rewards Program di Indonesia, Syarat dan Langkah Mengikutinya

Ekonomi Kreator

Kebijakan Baru TikTok Creator Rewards Program di Indonesia, Syarat dan Langkah Mengikutinya

24 Agu 2026

Panduan Cek Legalitas Fintech Lending Resmi Melalui Kontak WhatsApp OJK

Keuangan

Panduan Cek Legalitas Fintech Lending Resmi Melalui Kontak WhatsApp OJK

25 Agu 2026

Waspada Penipuan Modus Like dan Subscribe YouTube yang Menguras Rekening

Digital Economy & Earning

Waspada Penipuan Modus Like dan Subscribe YouTube yang Menguras Rekening

12 Agu 2026

Bareskrim Gagalkan Peredaran 531 Cartridge Etomidate Senilai Rp 1,5 Miliar

Waspada Penipuan

Bareskrim Gagalkan Peredaran 531 Cartridge Etomidate Senilai Rp 1,5 Miliar

12 Sep 2026

Xpeng Bukukan 937 SPK di GIIAS Tangerang, Menkeu Purbaya Ikut Pakai X9

Ekonomi & Bisnis

Xpeng Bukukan 937 SPK di GIIAS Tangerang, Menkeu Purbaya Ikut Pakai X9

1 Sep 2026

Insiden Kebakaran KMP Putri Yasmin di Rute Penyeberangan Padangbai menuju Lembar

Layanan Publik

Insiden Kebakaran KMP Putri Yasmin di Rute Penyeberangan Padangbai menuju Lembar

13 Agu 2026

馃敟

Populer

  1. 1Kebijakan Baru TikTok Creator Rewards Program di Indonesia, Syarat dan Langkah MengikutinyaEkonomi Kreator 路 24 Agu 2026
  2. 2Panduan Cek Legalitas Fintech Lending Resmi Melalui Kontak WhatsApp OJKKeuangan 路 25 Agu 2026
  3. 3Waspada Penipuan Modus Like dan Subscribe YouTube yang Menguras RekeningDigital Economy & Earning 路 12 Agu 2026
  4. 4Bareskrim Gagalkan Peredaran 531 Cartridge Etomidate Senilai Rp 1,5 MiliarWaspada Penipuan 路 12 Sep 2026
  5. 5Xpeng Bukukan 937 SPK di GIIAS Tangerang, Menkeu Purbaya Ikut Pakai X9Ekonomi & Bisnis 路 1 Sep 2026

tartilybanjary.id

Copyright 2026 tartilybanjary.id - All Rights Reserved.

Kategori

Ekonomi & BisnisEkonomi DigitalEkonomiNasionalHukumBeritaAfiliasiEkonomi KreatorAplikasiWaspada PenipuanBPJS KESEHATANBANTUAN SOSIAL

Halaman

  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Penyangkalan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Editorial
  • Digital Millennium Copyright Act - DMCA
  • Sitemap