PT Bayan Resources Tbk (BYAN) merilis keterbukaan informasi penting kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait operasional bisnis perusahaan. Emiten tambang batu bara milik konglomerat Dato' Low Tuck Kwong ini resmi mengumumkan keadaan kahar atau force majeure yang berdampak langsung pada pemenuhan pasokan batu bara ke sejumlah pelanggan.
Berdasarkan surat resmi bernomor 461/BR-OJK/IX/2026 tertanggal 11 September 2026, pemberitahuan keadaan kahar tersebut disampaikan perseroan bersama tiga entitas anak usahanya, yaitu PT Tiva Abadi (TA), PT Tanur Jaya (TJ), dan PT Fajar Sakti Prima (FSP).
Kendala Izin RKAB 2026 Picu Keadaan Kahar
Manajemen Bayan Resources menjelaskan bahwa penetapan force majeure terjadi akibat belum diterbitkannya persetujuan perubahan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun 2026 oleh pihak berwenang. Persetujuan revisi dokumen tersebut merupakan syarat mutlak agar anak-anak usaha perseroan dapat menjalankan kegiatan operasional produksi batu bara secara sah sesuai regulasi.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Keterlambatan izin ini membuat perseroan beserta anak usahanya mengalami hambatan dalam memenuhi kewajiban pengiriman komoditas sebagaimana tertuang di dalam kontrak pasokan batu bara (Coal Supply Agreement) dengan para mitra pembeli. Manajemen BYAN menegaskan bahwa situasi ini berpotensi memberikan dampak material terhadap kelangsungan usaha perseroan secara keseluruhan.
Dinamika Pasar dan Isu Akuisisi
Keterbukaan informasi mengenai hambatan operasional tersebut mengemuka di tengah beredarnya kabar di pasar terkait potensi akuisisi sekitar 62% saham Bayan Resources oleh pengusaha asal Kalimantan Selatan, Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Per 31 Agustus 2026, kepemilikan mayoritas emiten berkode saham BYAN dikuasai oleh Dato' Low Tuck Kwong sebesar 40,251% dan putrinya, Elaine Low, sebesar 22,002%. Penggabungan porsi keduanya setara dengan 62,253% dari total 33.333.335.000 lembar saham yang tercatat. Dengan jumlah sekitar 20,73 miliar lembar saham, nilai kepemilikan pengendali tersebut sempat menyentuh angka sekitar Rp358,17 triliun (setara 20,43 miliar dolar AS) saat harga saham BYAN bertengger di level Rp17.275 per lembar pada penutupan 18 Agustus 2026. Di pasar beredar spekulasi bahwa penawaran yang diajukan berada pada harga diskon lebih dari 80% dari harga puncak medio Agustus tersebut.
Sentimen operasional dan rumor korporasi tersebut turut menekan pergerakan saham BYAN di lantai bursa. Pada perdagangan Senin, 14 September 2026, harga saham BYAN ditutup anjlok 10,12% atau terpangkas 1.250 poin ke level Rp11.100 per saham. Penurunan ini memperdalam koreksi saham BYAN hingga sekitar 35% jika dihitung dari rekor harga tertingginya pada 18 Agustus 2026.






