tartilybanjary.id
BerandaEkonomi & BisnisInvestasiEkonomi DigitalEkonomi Digital & PendapatanEkonomi & KeuanganBisnis DigitalKeuangan DigitalInvestasi & SahamDigital Economy & EarningFinansialInvestasi DigitalKeuanganLogistik & InfrastrukturDigital EconomyKeuangan PublikRegulasi PropertiEkonomi HijauKomunikasi BisnisHukum & BisnisKebijakan Publik
Beranda/Keuangan Digital

Cara Mengatur Strategi Simpanan Saat Bank Menghadapi Kenaikan Cost of Fund

Lidya RumbayanDiterbitkan 31 Jul 2026 - 23.03 路 0 Dibaca
Bagikan WhatsAppX
Cara Mengatur Strategi Simpanan Saat Bank Menghadapi Kenaikan Cost of Fund
Foto/Ilustrasi: cnbcindonesia.com.
A-A+

Perubahan struktur pendanaan tengah menjadi perhatian utama di industri perbankan nasional, yang secara langsung berdampak pada nasabah dan pelaku ekonomi digital. Salah satu contoh nyata dialami oleh PT Bank Permata Tbk (BNLI) pada semester I-2026. Institusi keuangan ini mencatat adanya penyusutan signifikan pada dana murah atau current account saving account (CASA), sementara porsi dana mahal yang berbentuk deposito berjangka justru mengalami peningkatan. Fenomena pergeseran ini berpotensi meningkatkan biaya dana atau cost of fund bagi perbankan jika tren terus berlanjut. Bagi para profesional digital, pengusaha online, maupun investor perorangan, kondisi pasar seperti ini menuntut adanya strategi pengelolaan keuangan yang lebih adaptif agar nilai aset tetap tumbuh optimal.

Langkah pertama yang perlu Anda lakukan adalah mengevaluasi penempatan dana likuid secara berkala. Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2026, saldo giro milik Bank Permata mengalami penurunan sebesar 12,2% sepanjang tahun berjalan (ytd), dari posisi Rp73,71 triliun pada akhir 2025 menjadi Rp64,74 triliun. Tidak hanya giro, instrumen tabungan juga menyusut 9,4% ytd menjadi Rp44,77 triliun dibandingkan sebelumnya yang mencapai Rp49,40 triliun. Secara keseluruhan, dana murah bank tersebut terkikis sekitar Rp13,6 triliun dalam enam bulan pertama tahun 2026. Apabila Anda masih membiarkan dana hasil usaha digital mengendap dalam jumlah besar di rekening giro atau tabungan konvensional, mempertimbangkan diversifikasi ke instrumen lain merupakan keputusan taktis untuk mengimbangi laju inflasi.

tartilybanjary.id

Copyright 2026 tartilybanjary.id - All Rights Reserved.

Kategori

Ekonomi & BisnisInvestasiEkonomi DigitalEkonomi Digital & PendapatanEkonomi & KeuanganBisnis DigitalKeuangan DigitalInvestasi & SahamDigital Economy & EarningFinansialInvestasi DigitalKeuanganLogistik & InfrastrukturDigital EconomyKeuangan PublikRegulasi PropertiEkonomi HijauKomunikasi BisnisHukum & BisnisKebijakan PublikEkonomiEkonomi Digital & Bisnis
Ekonomi
Ekonomi Digital & Bisnis
Ekonomi Lokal
Regulasi & Tata Kelola
Hukum & Regulasi
Ekonomi & Pembangunan
Ekonomi & Regulasi
Keamanan Data
Berita Lokal
Ekonomi Makro
Otomotif
Investasi & Keuangan
Nasional
Kebijakan Ekonomi
Infrastruktur
Layanan Publik
Transportasi & Bisnis
Ekonomi & Kebijakan Publik
Kesehatan Konsumen
Ekonomi Global
Populer

Langkah kedua adalah memanfaatkan momentum pergeseran tren pendanaan menuju deposito berjangka. Ketika perbankan membutuhkan lebih banyak likuiditas untuk menambal penurunan CASA, simpanan berjangka menjadi instrumen yang diandalkan. Sebagai gambaran, simpanan deposito berjangka di Bank Permata tercatat meningkat 14,3% ytd menjadi Rp79,65 triliun dari posisi Rp69,67 triliun, yang berarti terdapat penambahan hampir Rp10 triliun. Anda dapat mengoptimalkan keuntungan dengan menempatkan dana pada deposito di tengah tren suku bunga saat ini. Momentum ini sangat relevan setelah Bank Indonesia (BI) menaikkan BI rate sebesar 100 basis poin dalam waktu satu bulan pada periode Mei-Juni 2026, sebelum akhirnya memutuskan untuk menahan suku bunga acuan tersebut di level 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) terakhir.

Baca Juga

Analisis Kinerja Keuangan Emiten Tembakau Melalui Studi Kasus Sampoerna Semester I 2026

Analisis Kinerja Keuangan Emiten Tembakau Melalui Studi Kasus Sampoerna Semester I 2026

Langkah ketiga berkaitan dengan analisis kinerja profitabilitas bank tempat Anda menempatkan dana guna mengukur tingkat stabilitas. Meskipun sedang menghadapi potensi kenaikan biaya dana, Bank Permata masih mampu membukukan pertumbuhan laba bersih menjadi Rp1,72 triliun, naik dari Rp1,65 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, Anda perlu mencermati bahwa peningkatan laba ini seiring dengan penurunan beban kerugian penurunan nilai (CKPN) dari Rp1,06 triliun menjadi Rp795 miliar. Di sisi lain, indikasi tekanan pada bisnis inti mulai terlihat dari pendapatan bunga dan syariah bersih yang merosot menjadi Rp4,84 triliun pada semester I-2026, berbanding Rp5,04 triliun pada tahun lalu. Memahami rasio ini membantu Anda menilai seberapa kuat bank menahan gejolak pasar.

Langkah keempat adalah mengantisipasi potensi penyesuaian bunga pinjaman serta memantau eksposur likuiditas perbankan secara umum. Dari sisi ekspansi, penyaluran kredit Bank Permata masih menunjukkan pertumbuhan menjadi Rp158,98 triliun dari posisi Rp152,11 triliun pada akhir tahun lalu. Akan tetapi, bank juga mencatat lonjakan tajam pada utang atas efek-efek yang dijual dengan janji dibeli kembali (repo). Nilai transaksi repo ini naik signifikan menjadi Rp10,91 triliun per Juni 2026 dibandingkan Rp2,26 triliun pada akhir 2025. Penggunaan instrumen pendanaan jangka pendek yang meningkat drastis ini bisa menjadi sinyal bahwa bank mungkin akan segera menyesuaikan suku bunga kredit mereka. Bagi pelaku ekonomi digital yang berencana mengajukan pinjaman modal kerja, sangat disarankan untuk melakukan perhitungan matang.

Baca Juga

Cara Menganalisis Kesehatan Keuangan Bank Saat Laba dan Ekuitas Bergerak Berlawanan

Cara Menganalisis Kesehatan Keuangan Bank Saat Laba dan Ekuitas Bergerak Berlawanan

Langkah kelima adalah merutinkan peninjauan ulang terhadap seluruh portofolio keuangan Anda setidaknya setiap kuartal. Dinamika yang terjadi pada Bank Permata merupakan cerminan dari tantangan likuiditas yang mungkin juga dihadapi oleh institusi keuangan lainnya di Jakarta dan seluruh Indonesia. Dengan memantau pergerakan BI rate, pergeseran struktur dana pihak ketiga, serta indikator profitabilitas perbankan, Anda dapat mengambil keputusan finansial yang lebih terukur. Pastikan instrumen simpanan yang dipilih memiliki profil risiko yang sesuai dengan tujuan keuangan bisnis digital Anda. Disiplin dalam mengatur strategi simpanan akan menjadi kunci utama dalam mempertahankan likuiditas dan mengembangkan aset di tengah fluktuasi pasar keuangan.

Ikuti tartilybanjary.id

Tambahkan ke sumber pilihan di Google

Topik Terkait

suku bungaBank PermataDepositoCASAManajemen Keuangan

Berita Terbaru Lainnya

Skema Anggaran Program Makan Bergizi Gratis Pasca Putusan Mahkamah KonstitusiPersiapan Penempatan Kerja Calon Manajer Koperasi Merah Putih SPPIPentingnya Sinergi Pemimpin dan Pelaku Usaha untuk Mendorong Pertumbuhan Ekonomi DaerahPenjelasan BGN Mengenai Pembatalan Mutasi Pegawai yang Ditegur Saat Rapat VirtualStrategi dan Cara Mengelola Aksesibilitas Pusat Perbelanjaan untuk Menertibkan Alur PengunjungProyeksi Pertumbuhan Pasar Otomotif Nasional dan Perkembangan Daya Beli MasyarakatCara Aman Menjadi Mitra Program Makan Bergizi Gratis Tanpa Terjebak Modus Yayasan TitipanPolemik Ekspor Mineral dan Dampak Regulasi Logam Tanah Jarang bagi Industri

Paling Banyak Dibaca

Transformasi dan Konsolidasi Asuransi BUMN di Bawah Naungan IFG

Ekonomi Digital

Transformasi dan Konsolidasi Asuransi BUMN di Bawah Naungan IFG

31 Jul 2026

Fakta Seputar Laporan KWP Terhadap Deddy Sitorus ke MKD

Profesi & Regulasi

Fakta Seputar Laporan KWP Terhadap Deddy Sitorus ke MKD

31 Jul 2026

Memahami Pengaruh Dinamika Survei Politik terhadap Sektor Ekonomi Digital

Ekonomi Digital

Memahami Pengaruh Dinamika Survei Politik terhadap Sektor Ekonomi Digital

31 Jul 2026

Faktor Pendorong IHSG Melesat Lebih dari 1 Persen pada 30 Juli 2026

Finance

Faktor Pendorong IHSG Melesat Lebih dari 1 Persen pada 30 Juli 2026

30 Jul 2026

Menyiasati Peluang Bisnis Daerah di Tengah Keterbatasan Fiskal dan Rencana Anggaran 2027

Ekonomi Digital

Menyiasati Peluang Bisnis Daerah di Tengah Keterbatasan Fiskal dan Rencana Anggaran 2027

30 Jul 2026

Dampak Kebijakan Pengetatan Impor Gula Rafinasi terhadap Ekonomi Petani Tebu

Ekonomi & Bisnis

Dampak Kebijakan Pengetatan Impor Gula Rafinasi terhadap Ekonomi Petani Tebu

30 Jul 2026

馃敟

Populer

  1. 1Transformasi dan Konsolidasi Asuransi BUMN di Bawah Naungan IFGEkonomi Digital 路 31 Jul 2026
  2. 2Fakta Seputar Laporan KWP Terhadap Deddy Sitorus ke MKDProfesi & Regulasi 路 31 Jul 2026
  3. 3Memahami Pengaruh Dinamika Survei Politik terhadap Sektor Ekonomi DigitalEkonomi Digital 路 31 Jul 2026
  4. 4Faktor Pendorong IHSG Melesat Lebih dari 1 Persen pada 30 Juli 2026Finance 路 30 Jul 2026
  5. 5Menyiasati Peluang Bisnis Daerah di Tengah Keterbatasan Fiskal dan Rencana Anggaran 2027Ekonomi Digital 路 30 Jul 2026
Ekonomi Lokal
Regulasi & Tata Kelola
Hukum & Regulasi
Ekonomi & Pembangunan
Ekonomi & Regulasi
Keamanan Data
Berita Lokal
Ekonomi Makro
Otomotif
Investasi & Keuangan
Nasional
Kebijakan Ekonomi
Infrastruktur
Layanan Publik
Transportasi & Bisnis
Ekonomi & Kebijakan Publik
Kesehatan Konsumen
Ekonomi Global

Halaman

  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Penyangkalan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Editorial
  • Digital Millennium Copyright Act - DMCA
  • Sitemap