Panduan memanfaatkan infrastruktur pelabuhan baru sangat krusial bagi pelaku usaha untuk mengoptimalkan rantai pasok dan meningkatkan margin keuntungan. Pada hari Sabtu, 1 Agustus 2026, PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo melakukan soft launching sekaligus uji coba operasional Terminal 2 Petikemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Momentum penting ini ditandai dengan uji sandar perdana kapal peti kemas MV Meratus Konawe di terminal tersebut. Direktur Utama Pelindo, Achmad Muchtasyar, menyampaikan bahwa pengoperasian terminal ini merupakan bagian dari transformasi berkelanjutan perusahaan di bawah arahan strategis Danantara. Bagi Anda yang ingin memanfaatkan fasilitas baru ini untuk keperluan bisnis, distribusi logistik, dan percepatan ekonomi, terdapat beberapa tahapan penting yang harus diperhatikan agar operasional berjalan lancar.
Langkah pertama yang harus dilakukan oleh pelaku usaha logistik adalah menyesuaikan spesifikasi armada kapal dengan kapasitas dermaga yang tersedia saat ini. Terminal 2 Petikemas memiliki dimensi total panjang dermaga mencapai 517,5 meter dan lebar 20,8 meter. Namun, perlu dicatat sebagai batasan operasional saat ini bahwa baru sepanjang 200 meter dari total dermaga tersebut yang telah siap beroperasi secara penuh. Terminal ini juga memiliki kedalaman desain -12 meter low water spring (LWS), sehingga mampu melayani kapal dengan kapasitas maksimal hingga 30.000 deadweight tonnage (DWT). Jika armada angkutan Anda melebihi kapasitas tonase tersebut, Anda harus melakukan penyesuaian kapal agar proses sandar dan bongkar muat dapat dilakukan di terminal ini.
Langkah kedua adalah memperhitungkan kapasitas area penumpukan kontainer serta ketersediaan peralatan bongkar muat untuk efisiensi waktu operasional. Area penumpukan peti kemas yang disediakan di terminal ini memiliki luas sekitar 98.700 meter persegi dengan daya tampung yang mampu mencapai 8.425 TEUs. Untuk menunjang aktivitas pemindahan barang secara langsung, terminal ini didukung oleh satu unit quay container crane (QCC), empat unit rubber tyred gantry crane (RTGC), satu unit reach stacker, dan lima unit head truck beserta chassis. Seluruh kegiatan operasional lapangan ini juga didukung penuh oleh 70 personel operasional. Kapasitas alat dan tenaga kerja ini harus menjadi landasan perhitungan Anda dalam menyusun estimasi waktu bongkar muat agar rantai pasok tetap efisien.
Tabrakan Maut Motor dan Truk Trailer di Tanjung Priok Picu Kebakaran Kabin

Langkah ketiga adalah memastikan kepatuhan administrasi dan hukum terhadap regulasi pelayaran yang berlaku di Indonesia. Kepala KSOP Utama Tanjung Priok, Capt. Heru Susanto, menegaskan bahwa seluruh operasional di Terminal 2 Petikemas wajib mengacu pada regulasi yang sah. Regulasi utama yang harus dipatuhi oleh setiap entitas bisnis adalah Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 50 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Pelabuhan Laut. Pelaku usaha harus memastikan seluruh dokumen pengapalan, prosedur keselamatan kerja, dan perizinan bongkar muat perusahaan sudah selaras dengan peraturan menteri tersebut guna menghindari kendala hukum atau penundaan pergerakan barang yang dapat merugikan secara finansial.
Langkah keempat adalah merancang rute pengiriman baru dengan memanfaatkan perluasan jaringan koridor pelayaran. Direktur Komersial Pelindo, Farid Padang, menjelaskan bahwa Terminal 2 Petikemas ini menjadi bagian dari pengembangan konsep Pelindo Indonesia Network Pendulum (PINP). Program strategis ini bertujuan untuk mengintegrasikan jaringan layanan peti kemas melalui pembentukan hingga 20 koridor pelayaran baru di masa mendatang. Sebagai pelaku usaha, Anda dapat mulai memetakan target awal pembentukan tujuh koridor pelayaran yang dijadwalkan terealisasi pada triwulan IV 2026. Pemetaan rute ini akan sangat membantu dalam mengoptimalkan biaya distribusi logistik domestik Anda.
Laba Usaha InJourney Naik 10%, Ini Pesan BP BUMN

Langkah kelima adalah mengantisipasi pengembangan kapasitas layanan pelabuhan di masa mendatang sekaligus melihat potensi pasar yang lebih luas. Pelindo menargetkan penambahan dua unit QCC baru yang dijadwalkan mulai beroperasi pada triwulan IV 2026. Dengan memantau target penambahan alat bongkar muat ini, Anda dapat merencanakan peningkatan volume pengiriman barang secara bertahap. Selain itu, kelancaran logistik ini juga berpotensi membuka peluang perluasan distribusi hingga ke tingkat usaha mikro, mengingat PNM telah memberdayakan 12,4 juta pengusaha ultra mikro pada Semester I 2026. Sinergi antara infrastruktur logistik yang kuat dan pertumbuhan sektor usaha kecil dapat menjadi ekosistem yang menguntungkan bagi ekspansi bisnis Anda di masa depan.






