Kerugian finansial dalam bisnis peternakan bisa terjadi dalam sekejap akibat kelalaian kecil. Peristiwa memilukan menimpa sebuah usaha peternakan di Kampung Bojong Kelor, Desa Tapos, Kecamatan Cadasari, Kabupaten Pandeglang pada hari Selasa (7/8). Akibat musibah Kebakaran Kandang di Pandeglang, 100 Kambing Terpanggang hingga mati di dalam kandang koloni mereka. Pemilik usaha tersebut ditaksir mengalami kerugian materi hingga mencapai Rp 350 juta karena seluruh bangunan kandang hangus tidak tersisa. Kejadian ini menjadi alarm keras bagi para pelaku usaha agribisnis mengenai pentingnya manajemen risiko kebakaran, terutama saat memasuki musim kemarau.
Kebakaran hebat tersebut dipicu oleh aktivitas pembakaran pakan di sekitar area kandang. Di tengah kondisi cuaca kering musim kemarau, api dengan cepat menjalar dan membesar tanpa bisa dikendalikan. Warga setempat sempat berupaya memadamkan kobaran api menggunakan alat seadanya sebelum dua unit mobil pemadam kebakaran tiba di lokasi untuk melakukan pendinginan. Guna mencegah bencana serupa meruntuhkan bisnis Anda, langkah pertama yang harus dilakukan adalah melarang keras aktivitas pembakaran apa pun, baik sampah, sisa pakan, maupun rumput kering, di dekat area kandang selama musim kemarau. Pastikan ada jarak aman minimal 15 hingga 20 meter antara area pembuangan atau pengolahan limbah dengan bangunan utama kandang.
Dugaan ABG di Jakbar Dicabuli Pemuda Usia 23 Tahun, Polisi Periksa Sejumlah Saksi

Langkah kedua berfokus pada tata ruang dan desain kandang koloni. Dalam kasus di Cadasari ini, kambing-kambing tersebut ditempatkan dalam sistem koloni dengan kapasitas 20 ekor per sekat kandang. Ketika api melalap bangunan, hewan ternak yang terkunci rapat di dalam sekat koloni tidak memiliki kesempatan untuk menyelamatkan diri. Untuk meminimalkan risiko ini, peternak disarankan merancang pintu darurat yang mudah dibuka dari luar secara cepat. Selain itu, sekat antar-koloni sebaiknya dibuat dari bahan yang tidak mudah menghantarkan api secara instan, serta menyisakan koridor evakuasi yang cukup lebar agar ternak dapat dikeluarkan dengan cepat saat situasi darurat terjadi.
Langkah ketiga adalah menyediakan alat pemadam kebakaran mandiri di area peternakan. Mengandalkan bantuan eksternal seperti petugas pemadam kebakaran sering kali terlambat karena kendala jarak dan waktu tempuh, seperti yang terjadi dalam insiden di Pandeglang di mana armada pemadam baru tiba saat fase pendinginan. Peternak wajib menyediakan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) jenis powder atau foam di beberapa titik strategis kandang. Selain itu, pembuatan tandon air khusus atau sumur bor di dekat kandang sangat direkomendasikan agar warga atau pekerja memiliki akses air yang melimpah tanpa harus bergantung pada peralatan seadanya saat api pertama kali muncul.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Langkah terakhir untuk melindungi keberlangsungan bisnis dari ancaman bangkrut adalah dengan memanfaatkan asuransi peternakan. Kehilangan aset senilai Rp 350 juta tentu dapat langsung menghentikan operasional bisnis skala menengah ke bawah. Melalui program asuransi usaha ternak yang kini banyak difasilitasi oleh lembaga keuangan maupun pemerintah, peternak dapat mengalihkan risiko kerugian finansial akibat bencana kebakaran atau penyakit. Meskipun asuransi tidak mencegah terjadinya kebakaran, proteksi finansial ini memberikan jaminan modal bagi peternak untuk membangun kembali usahanya tanpa harus memulai dari nol setelah tertimpa musibah.






