Pasar saham domestik dinilai masih menyimpan ruang penguatan hingga penghujung 2026 di tengah dinamika kebijakan moneter. PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) memperkirakan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang menembus level 8.000 pada skenario paling optimistis, meskipun tekanan suku bunga dan perlambatan ekonomi masih membayangi pasar modal.
Berdasarkan konsensus manajer investasi yang bermitra dengan perseroan, pergerakan indeks saham sepanjang 2026 diproyeksikan bergulir di rentang 7.000 hingga 8.000. Rentang proyeksi ini disusun untuk memetakan arah pasar modal dalam menghadapi berbagai kondisi makroekonomi domestik maupun global.
Tiga Proyeksi Arah Indeks
WM Business Development & Market Research Head CIMB Niaga, Lanjar Nafi Taulat Ibrahimsyah, menjelaskan bahwa pihaknya memetakan arah pergerakan IHSG ke dalam tiga skenario utama, yakni bull case, base case, dan bear case.
Dalam skenario bull case atau proyeksi paling optimistis, IHSG diperkirakan mampu melesat hingga mencapai level 8.000. Sementara itu, skenario dasar (base case) menempatkan indeks berada di kisaran 7.500. Adapun pada skenario paling konservatif (bear case), IHSG diproyeksikan tertahan di level 7.000.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Faktor Suku Bunga dan Valuasi Emiten
Penyusunan proyeksi tersebut mempertimbangkan kondisi perekonomian domestik yang saat ini berada dalam fase pengetatan sekaligus perlambatan. CIMB Niaga sendiri mengambil pandangan konservatif dengan melihat adanya potensi kenaikan BI Rate satu kali lagi pada 2026.
Kendati masih berpotensi naik satu kali, ruang bagi Bank Indonesia untuk terus mengerek suku bunga acuan dinilai semakin sempit. Posisi suku bunga saat ini dipandang telah mendekati puncaknya.
Kondisi suku bunga tinggi menjadi perhatian utama pasar karena berisiko mendongkrak biaya pendanaan (cost of fund) bagi emiten di bursa. Peningkatan beban pembiayaan tersebut pada akhirnya dapat memberikan tekanan langsung terhadap valuasi saham.
Asing Borong Saham Tambang Lagi di Tengah Pelemahan IHSG

Pertimbangan Portofolio Investor
Mencermati dinamika tersebut, pelaku pasar diimbau untuk lebih selektif dalam memilih instrumen saham. Peluang dari koreksi harga saham sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya tolok ukur dalam mengambil keputusan investasi.
Lanjar menyarankan investor untuk memprioritaskan saham-saham berkapitalisasi pasar besar (big cap) atau emiten yang memiliki struktur permodalan solid dengan rasio utang terhadap aset (debt-to-asset ratio) yang rendah, sehingga lebih tangguh menghadapi era suku bunga tinggi.






