Industri pertahanan global kembali mencatatkan aktivitas ekonomi yang sangat masif seiring dengan meningkatnya tensi geopolitik di berbagai belahan dunia. Konflik yang terus melibatkan Amerika Serikat di era kepemimpinan Presiden Donald Trump telah memberikan dorongan signifikan bagi bisnis persenjataan. Di tengah meningkatnya kebutuhan amunisi akibat perang yang melibatkan kawasan seperti Iran dan Ukraina, perusahaan pertahanan Lockheed Martin berhasil mengamankan sebuah kesepakatan bisnis bernilai fantastis. Pada hari Rabu, 29 Juli 2026, Pentagon secara resmi mengumumkan bahwa Angkatan Darat Amerika Serikat telah memberikan kontrak jumbo kepada produsen pertahanan terkemuka tersebut. Nilai kontrak yang disepakati mencapai rekor hingga US$58,6 miliar, atau setara dengan sekitar Rp1.054,8 triliun dengan asumsi kurs Rp18.000 per dolar AS. Kesepakatan raksasa ini secara khusus ditujukan untuk memproduksi rudal pencegat Patriot guna memperkuat sistem pertahanan negara.








