Kebijakan luar negeri dan keputusan militer Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu kontroversi hangat di ranah publik. Kali ini, sorotan tajam tertuju pada sikap Trump yang mengecilkan dampak fisik dan mental yang dialami oleh para pelaut di kapal induk USS Abraham Lincoln. Para pelaut di kapal perang tersebut harus menghadapi kenyataan pahit setelah menjalani penugasan terus-menerus selama hampir sembilan bulan di laut tanpa adanya jeda. Sikap acuh tak acuh dari sang presiden ini memicu reaksi keras dari berbagai pihak, terutama karena kondisi para prajurit yang telah lama berada di tengah laut demi menjalankan misi militer.
Beban berat yang dipikul oleh awak kapal USS Abraham Lincoln memang tidak main-main. Kapal induk andalan Amerika Serikat ini tercatat telah menghabiskan waktu lebih dari 240 hari berada di laut lepas tanpa sekalipun kembali atau bersandar di pelabuhan. Kondisi ini merupakan konsekuensi langsung dari operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran yang dijalankan bersama dengan Israel. Operasi militer tersebut awalnya diperkirakan hanya akan berlangsung selama beberapa pekan saja. Namun, kenyataannya konflik tersebut justru terus berlarut-larut hingga kini telah memasuki bulan kelima, memaksa para pelaut tetap bersiaga di lautan tanpa kepastian kapan bisa beristirahat di darat.
Was-was Menanti Kebijakan The Fed, Rupiah Melemah ke Rp 17.705 per Dolar AS

Situasi memprihatinkan yang dialami oleh para awak kapal USS Abraham Lincoln ini akhirnya memicu reaksi keras dari kalangan legislatif di Washington. Sejumlah anggota parlemen dari Partai Demokrat tidak tinggal diam melihat kondisi tersebut. Senator Richard Blumenthal dari Connecticut bersama Senator Ruben Gallego dari Arizona secara terbuka mendesak pihak Pentagon untuk segera mengambil tanggung jawab penuh atas kondisi yang terjadi di atas kapal USS Abraham Lincoln. Mereka menilai bahwa kesejahteraan dan kondisi para prajurit yang bertugas di medan perang harus menjadi prioritas utama yang tidak boleh diabaikan oleh otoritas pertahanan.
Di sisi lain, Presiden Donald Trump justru menunjukkan sikap yang sangat bertolak belakang saat menyampaikan pidato di Garden City, New York. Dalam kesempatan tersebut, Trump mengakui bahwa dirinya memang menggunakan kekuatan militer Amerika Serikat sedikit lebih banyak daripada yang diinginkan sebelumnya. Kendati demikian, ia tetap menegaskan dengan penuh percaya diri bahwa operasi militer terhadap Iran tersebut berjalan dengan sangat baik. Trump juga dengan tegas menolak untuk meminta maaf atas terjadinya perang tersebut maupun atas dampaknya terhadap lonjakan harga minyak dunia, dengan menyatakan bahwa dirinya tidak akan pernah meminta maaf karena merasa telah melakukan hal yang benar. Tidak hanya itu, Trump bahkan sempat melontarkan pernyataan bernada candaan bahwa dalam waktu dekat ia akan mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai bagian dari wilayah teritorial Amerika Serikat.
Intip ke dalam 'Kos-kosan Barang' di DKI, Sewa Rp320.000-Tembus 7 Juta

Untuk meredakan ketegangan dan memberikan kepastian bagi para keluarga prajurit, Pelaksana Tugas Menteri Angkatan Laut Amerika Serikat, Hung Cao, akhirnya memberikan pernyataan resmi. Melalui akun media sosialnya, Hung Cao mengumumkan bahwa kapal induk USS Abraham Lincoln akan segera pulang ke tanah air dalam waktu dekat. Kabar kepulangan ini juga dikonfirmasi oleh Presiden Trump yang menyatakan bahwa kapal tersebut saat ini sedang bergerak, atau akan segera bergerak untuk kembali, dan posisinya kelak akan digantikan oleh kapal militer lain yang memiliki karakteristik sangat mirip. Langkah pergantian ini diharapkan dapat memberikan jeda yang sangat dibutuhkan oleh para pelaut yang telah berjuang di laut selama berbulan-bulan.






