Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara menegaskan komitmennya untuk menghadirkan pelaporan keuangan yang transparan dan akuntabel. Saat ini, laporan keuangan BPI Danantara tengah berada dalam tahap audit sebelum disampaikan secara terbuka kepada masyarakat.
Managing Director Global Relations and Communications BPI Danantara, Pahala N Mansury, menyatakan bahwa penyampaian kinerja keuangan kepada publik merupakan suatu kewajiban. Publikasi resmi akan segera dilaksanakan begitu seluruh rangkaian proses audit selesai dilakukan.
Pahala menjelaskan bahwa penyusunan laporan keuangan pada masing-masing entitas BUMN sejatinya telah rampung. Kendati demikian, Danantara memerlukan proses konsolidasi menyeluruh karena ekosistem BUMN menaungi lebih dari 1.070 perusahaan dengan kondisi dan sistem pelaporan yang beragam.
IHSG Pagi Ini Menguat, Dibuka Naik 0,27% ke Level 6.454

Penerapan Standar Santiago Principles
Dalam rangka memastikan kualitas keterbukaan informasi, Danantara membidik penerapan standar Santiago Principles. Penerapan prinsip ini diharapkan dapat menjamin kelengkapan dan kecukupan informasi yang disajikan kepada publik.
Pahala menambahkan bahwa transparansi yang diusung tidak terbatas pada penyajian data keuangan semata. Danantara juga berupaya membuka informasi seputar implementasi manajemen risiko, keberlanjutan (sustainability), serta tata kelola (governance) yang berjalan di lingkungan BPI, DIM, maupun DAM.
Bisik-bisik Ambang Batas Parlemen 5% dari Pertemuan Ketum Koalisi

Rasionalisasi Portofolio dan Target Laba 2026
Selain penguatan aspek akuntabilitas pelaporan, pembenahan ekosistem BUMN terus didorong melalui rasionalisasi korporasi. Chief Operating Officer BPI Danantara, Dony Oskaria, menargetkan jumlah entitas di dalam ekosistem BUMN dapat dipangkas secara signifikan dari 1.074 perusahaan menjadi 254 perusahaan pada akhir 2026.
Seiring langkah perampingan tersebut, Danantara menargetkan perolehan laba kelompok perusahaan BUMN meningkat dari kisaran Rp330 triliun menjadi Rp360 triliun pada 2026. Pencapaian target pertumbuhan laba ini bergantung pada penyelesaian agenda strategis, meliputi restrukturisasi BUMN Karya, transformasi PT Pos, pembenahan dana pensiun, serta penuntasan konsolidasi ratusan anak perusahaan.






